Sampoerna Masih Jagokan Rokok Premium

Sampoerna Masih Jagokan Rokok Premium

- detikFinance
Selasa, 27 Mei 2008 16:29 WIB
Jakarta - PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) masih akan mengunggulkan produk-produk rokok di kelas premium pada tahun 2008 ini, terkait semakin ketatnya kompetisi di kelas rokok ekonomi.

"Kami melihat kompetisi di kelas ekonomi akan semakin ketat dengan kenaikan BBM, oleh karena itu tahun ini kami masih akan fokus di kelas rokok premium," ujar Direktur Communication HMSP, Niken Rachmad, usai RUPST di Graha Niaga, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Selasa (27/5/2008).

Niken menjelaskan bahwa dampak kenaikan BBM tidak akan terlalu berpengaruh pada kinerja internal perseroan. Menurutnya, dampak kenaikan BBM justru akan berpengaruh pada daya beli konsumen, sehingga mungkin akan berpengaruh ke volume penjualan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan tren yang ada, kenaikan BBM akan menyebabkan migrasi konsumen rokok kelas menengah ke produk di kelas ekonomi, sehingga kompetisi di kelas ekonomi akan semakin ketat," jelas Niken.

Sehubungan dengan itu, perseroan menilai konsumen rokok di kelas premium tidak akan terlalu berdampak pada kenaikan BBM.

"Hal itu bisa dilihat dari data penjualan rokok premium. Dan sejauh ini, produk-produk kami memang bermain di segmen tersebut. Jadi kami belum berencana beralih fokus ke rokok kelas ekonomi," ulas Niken.

Mengenai dampak kenaikan tarif cukai spesifik yang dikenakan oleh pemerintah sebesar Rp 35 per batang mulai tahun 2008 ini, kinerja HMSP juga belum menunjukkan tanda-tanda adanya penurunan akibat kebijakan tersebut.

"Kami telah menaikkan harga di awal tahun 2008 akibat penerapan kebijakan cukai spesifik. Namun sejauh ini tidak terlalu berpengaruh. Kinerja triwulan I kami masih bagus. Kalau untuk triwulan II-2008 kami belum bisa memperkirakan, apalagi ada kebijakan kenaikan BBM," papar Niken.

Pada triwulan I-2008 lalu, perseroan membukukan penjualan bersih terkonsolidasi sebesar Rp 8,127 triliun, tumbuh 11,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 7,296 triliun.

(dro/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads