"ING dan DBS telah berhasil menggalang sindikasi pinjaman sebesar US$ 300 juta untuk menutupi kekurangan capex tahun 2008," ujar Direktur Keuangan ISAT, Wong Heang Tuck usai jumpa pers di gedung Indosat, Jakarta, Rabu (27/5/2008).
Pada tahun 2008 perseroan menganggarkan capex sebesar US$ 1,2 miliar. Komposisinya US$ 800 juta dari kas internal dan sisanya US$ 400 juta dari pendanaan eksternal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rangka mencari kekurangan pendanaan eksternal tersebut, ISAT sebelumnya telah menunjuk ING Bank NV dan DBS Bank sebagai arranger dan penjamin emisi pencarian pinjaman.
Melalui dua lembaga keuangan tersebut, ISAT memperoleh fasilitas pinjaman sebesar US$ 200 juta dengan opsi Green Shoe yang memungkinkan fasilitas ditingkatkan sebesar US$ 100 juta.
"Jumlah tersebut bisa kami cairkan semua. Namun tentu sangat tergantung pada kebutuhan perseroan," ujar Wong.
Anggaran capex sebesar US$ 1,2 miliar tersebut, rencananya akan digunakan untuk pengembangan wireless termasuk pembangunan BTS (sekitar 85%) dan sisanya untuk maintenance.
Dampak Kenaikan BBM
Dampak kenaikan BBM rupanya membuat perseroan harus meningkatkan target jumlah pelanggan dari yang diperkirakan sebelumnya, dengan tujuan mencapai target pertumbuhan pendapatan tahun ini.
"Pada awal tahun kami menargetkan penambahan jumlah pelanggan baru sebanyak 6 juta pelanggan. Namun dengan kenaikan BBM dan kebijakan penurunan tarif, kami menargetkan jumlah pelanggan jadi 8 juta pelanggan," ulas Wong.
Ia menjelaskan, pada awal tahun 2008 perseroan memperkirakan terjadi penurunan ARPU sekitar 10-12% dari posisi di akhir 2007 yang sebesar Rp 53 ribu per orang per bulan.
"Dengan kenaikan BBM penurunan ARPU di 2008 bisa sebesar 10-15%. Ditambah adanya kebijakan penurunan tarif, maka kami harus menambah jumlah pelanggan lebih dari perkiraan sebelumnya, agar target pertumbuhan revenue di 2008 dapat tercapai," jelas Wong.
(dro/qom)










































