Salah satu agenda yang akan dibicarakan adalah bagaimana menciptakan mekanisme yang terproteksi dari masing-masing bursa agar nantinya tidak saling mematikan satu sama lain.
"Seperti misalnya nanti ada saham-saham yang tidak laku karena adanya bursa bersama, itu jadi perhatian," kata Dirut BEI Erry Firmansyah usai RUPST di Hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta, Kamis (5/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Nongram Wongwanich, Senior Executive Vice Presidnt Bursa Efek Thailand mengatakan, enam bursa saham di ASEAN akan bergabung mulai tahun 2008 untuk memfasilitasi cross-listings dan meningkatkan daya tarik pasar saham Asia bagi investor asing. Bursa saham yang akan bergabung adalah dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina dan Indonesia.
Enam bursa ASEAN itu, menurut Nongram, akan membentuk sebuah steering committee untuk mendiskusikan masalah seputar sistem perdagangan, kliring, setelmen, jam perdagangan dan mata uangnya.
Sementara saat ini lima bursa ASEAN telah bekerja sama dengan Grup FTSE (Financial Time Stock Exchange) dalam membentuk indeks regional di pasar ASEAN. Kelima bursa ASEAN tersebut adalah Bursa Malaysia, Bursa Efek Jakarta, Bursa Efek Filipina, Bursa Efek Singapura, dan Bursa Efek Thailand.
Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan Juli 2005 di masing-masing negara dalam bentuk circular signing dengan FTSE yang berbasis di London.
FTSE akan membuat indeks perdagangan yang akan menjadi acuan (bench mark) bagi instrumen keuangan ASEAN baik yang dilakukan investor institusi maupun ritel. Selain itu juga untuk kebutuhan perdagangan kontrak derivatif.
Indeks regional yang dibentuk menggunakan standar internasional yang akan disesuaikan dengan kondisi pasar masing-masing negara berdasarkan Industry Classification Benchmark (ICB). (ir/qom)











































