Rupiah Rentan Isu Non Fundamental

Rupiah Rentan Isu Non Fundamental

- detikFinance
Jumat, 06 Jun 2008 13:47 WIB
Rupiah Rentan Isu Non Fundamental
Yogyakarta, - Pasar valas dalam negeri sering bergerak anomali dengan pasar regional. Kecilnya volume pasar valas di Indonesia membuat rupiah rentan termasuk pada isu-isu non fundamental.

"Memang pertanyaan sulit, banyak dipertanyakan orang, mata uang regional cenderung menguat kok hanya rupiah yang melemah. Berbagai upaya telah kita lakukan termasuk recycling atau intervensi valuta asing saya kira cukup besar," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono.

Hal itu diungkapkan Hartadi dalam acara Lokakarya Wartawan Bidang Ekonomi dan Moneter bertajuk 'Kebijakan dan Operasional Pengelolaan Moneter', di Hotel Santika, Yogyakarta, Jumat (6/6/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Hartadi, beberapa hal yang menyebabkan rupiah belum terangkat dibandingkan dengan negara lain diataranya masalah tingkat kepercayaan investor menjelang kenaikan BBM, investment rating, bahkan tingkat besar-kecilnya pasar valas turut menentukan.

"Saya sendiri melihat pasar valas kita dibandingkan dengan pasar regional sangat kecil, sehingga apabila ada pergerakan sedikit saja di dalam kolam yang kecil apalagi ada pergerakan besar seperti Pertamina maka riaknya besar sekali, itu yang terjadi," tambahnya.

"Pasar kita memang sulit berkembang ke arah yang besar kita tidak bisa berkembang terutama hedging market kita, tidak bisa lebih tinggi dari 1 tahun, itu yang membuat pasar kita rentan dengan berbagai isu, termasuk non fundamental," tambahnya.

Bahkan lanjut Hartadi, isu-isu sebelum BBM dinaikkan membuat investor masih menunggu atau melarikan dananya. "Soal  APBN membiayai defisitnya ini yang membuat investor wait and see bahkan spekulasi keluar itu yang membuat nilai tukar kita tidak terlalu menguat dibandingkan dengan yang lain," jelasnya.

Selain itu juga, dibandingkan dengan negara lain regional investment rating Indonesia masih di bawah 3 kelas, sedangkan negara-negara regional jauh lebih baik.

Sehingga kata Hartadi upaya meningkatkan investment rate menjadi penting agar sejajar dengan yang lain.  Juga dengan melakukan intervensi pasar valuta asing yang telah dilakukan BI.

"Ada salah persepsi mengenai intervensi valuta asing ini, dia kira kita buang-buang uang, di atas US$ 7 miliar tahun 2008. Ini menunjukan upaya kita ada untuk memperkuat rupiah. Kita bukan hamburkan semacam itu kita hanya lakukan dalam operasi pasar terbuka. Nilai dari aset kita yang berubah yang tadinya dolar menjadi rupiah karena kita ambil rupiahnya," paparnya. (hen/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads