Giliran Negara Petro Dolar Kuasai Telekomunikasi RI

Giliran Negara Petro Dolar Kuasai Telekomunikasi RI

- detikFinance
Senin, 09 Jun 2008 11:01 WIB
Giliran Negara Petro Dolar Kuasai Telekomunikasi RI
Jakarta - Setelah era investor Singapura dan Malaysia, pasar telekomunikasi Indonesia kini jadi incaran negara-negara petrodolar alias Timur Tengah. Hingga kini sudah ada tiga investor dari jazirah Arab yang masuk ke perusahaan telekomunikasi Indonesia.

Bermula investor dari Uni Emirate Arab, Etisalat yang membeli 15,97% saham PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) milik kelompok Rajawali pada Desember 2007. Etisalat merupakan salah satu pemain besar di Asia Timur. Dengan membeli XL, Etisalat kini memiliki operasional di 16 negara.

Setelah Etisalat pada Februari 2008, Saudi Telecom Company yang berbasis di Arab Saudi bersama Maxis Communications asal Malaysia memproklamirkan Axis melalui bendera PT Natrindo Telepon Seluler.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Axis merupakan operator penyedia layanan seluler GSM dan 3G di Indonesia yang menawarkan layanan komunikasi yang inovatif dan ekonomis. AXIS mulai beroperasi di Jawa dan Sumatera, dan saat ini sedang gencar mengembangkan jaringan 2G dan 3G-nya ke beberapa wilayah lain di Indonesia.

Pemegang saham utama AXIS adalah Saudi Telecom Company (51%) dan Maxis Communications (44%) sementara 5% sisanya dimiliki oleh perusahaan local.

Dan yang paling gres tentu saja masuknya Qatar Telecom (Qtel) yang membeli 40,8% saham PT Indosat Tbk milik Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (ST Telemedia).

"Negara-negara Arab sedang punya modal besar, pelaku pasar sebenarnya sudah mencium akan ada lagi negara petro dolar yang membeli saham perusahaan telekomunikasi Indonesia, dan terbukti dengan masuknya Qtel ke Indosat," kata pengamat saham Adrian Rusmano dalam perbincangannya dengan detikFinance, Senin (9/6/2008).

Negara-negara Arab, kata Adrian memiliki ciri, jika satu investor berhasil masuk akan diikuti oleh investor lainnya.

Investor dari Arab ini, kata Adrian, memiliki modal yang cukup untuk mengembangkan perusahaan sasarannya. "Pendanaan yang kuat ini akan membuat perusahaan sasaran seperti Qtel di Indosat untuk bisa melakukan ekspansi demi memperbesar usahanya," tutur Adrian.

Sementara investor Singapura masih memiliki saham di Telkomsel yakni Singtel sebesar 35%. Sedangkan investor Malaysia melalui Telecom Malaysia menguasai mayoritas saham di XL.

(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads