Secara keseluruhan aliran masuk hampir mencapai US$ 1 triliun. Angka ini merupakan rekor aliran modal swasta yang masuk ke negara berkembang.
"Hal ini menandai keuntungan 5 tahun berturut-turut baik itu di komponen utang dan saham swasta," tulis laporan Bank Dunia, Global Development Finance, seperti dikutip detikFinance, Jumat (13/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun krisis keuangan yang terjadi di AS efeknya tidak terlalu merembet ke negara berkembang, banyaknya bank-bank besar yang melakukan penghapusan buku memaksa bank itu untuk mengurangi porsi kreditnya untuk menyesuiakan neraca mereka.
Pengurangan porsi kredit ini akan mempengaruhi perusahaan di negara berkembang. Perusahaan itu harus mencari alternatif pembiayaan lain.
Sebagai tambahan, Bank Dunia mengingatkan, meski krisis finansial melunak di triwulan I-2008 tapi krisis ini belum berakhir. "Itu masih berlangsung," ujar penulis utama Global Development Finance Mansoor Dailami.
(ddn/ir)










































