Proyek senilai Rp 647 miliar ini merupakan bagian dari program nasional pemerintah 10.000 MW. Proyek ini diharapkan dapat memberikan tambahan daya sebesar 2 X 25 MW untuk kebutuhan listrik di daerah jaringan Sulawesi Utara.
"Proyek ini merupakan proyek pertama dari 25 proyek pembangkit listrik yang ditawarkan pemerintah di luar Jawa," ujar Direktur Operasi WIKA, Slamet Maryono, dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Jumat (13/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk tahap pertama, pemerintah mencanangkan pembangunan 10.000 MW pembangkit listrik yang diharapkan akan selesai pada 2011.
"Dari total proyek kelistrikan pemerintah dalam 10 tahun ke depan WIKA telah mendapatkan 4,000 MW. Kami merupakan pemegang proyek terbesar untuk EPC," jelas Slamet.
Proyek EPC di sektor energi tersebut diharapkan dapat menjadi lokomotif dari pertumbuhan pendapatan WIKA di tahun 2008.
Saat ini WIKA sedang mengikuti tender senilai Rp 10 triliun untuk tahun 2007 hingga 2011, terutama dengan adanya prioritas dari pemerintah untuk menambah kapasitas pembangkit listrik di Indonesia. Selain itu, WIKA juga bergerak di bisnis infrastruktur seperti jalan tol dan pembangkit listrik.
Beberapa proyek WIKA terdapat di luar negeri seperti di Algeria dengan nilai kontrak Rp 461 milyar. Sementara total nilai order book WIKA mencapai lebih dari Rp 9,1 triliun di berbagai proyek infrastruktur, gedung, jembatan dan lain sebagainya.
Pada tahun 2008 ini, WIKA menargetkan perolehan pendapatan sebesar Rp 6 triliun, tumbuh 40% dari pendapatan tahun 2007 sebesar Rp 4,2 triliun.
"Peluangnya sangat besar dan kami telah lama menyiapkan untuk mendapatkan proyek-proyek EPC dengan membangun hubungan dengan PLN, kontraktor Jepang dan Cina yang terkenal dalam pengerjaan pembangkit listrik," ulas Slamet.
(dro/qom)











































