Kekecewaan Lutfi atas masuknya Qtel itu diungkapkan saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (16/6/2008).
"Saya termasuk yang kecewa dengan masuk Qtel. Di Singapura itu, mereka menjelek-jelekkan kita. Kita dianggap bangsa yang tidak berbudaya oleh mereka. Kita dianggap tidak bisa menguasai hukum. Pokoknya kita dianggap yang jelek-jelek," ketus Lutfi dengan berapi-api.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu kira-kira 3 kali lipat lebih tinggi dari harga pasar. Tetapi itu harga yang murah sekali, jadi kita dibejek dulu sehingga harganya menjadi murah, baru dibeli pada harga yang murah," imbuhnya lagi dengan keras.
Lutfi menilai, Qtel berani masuk ke Indonesia karena menilai sektor telekomunikasi sebagai investasi yang bagus. Dan mereka diuntungkan karena bisa membeli Indosat pada harga yang murah.
"Mereka beli kira-kira 3-4 kali EBITDA, sementara Telkom itu kan 9 kali, jadi dia dapat untung besar," tegasnya lagi.
"Dan saya sayangkan Qtel ini menjelek-jelekkan sistem hukum di Indonesia karena masalah Temasek. Tapi kenapa mereka tetap beli? Jadi mereka itu mencari keuntungan. Mereka mendapatkan keuntungan dengan menjelek-jelekkan bangsa Indonesia," imbuh Lutfi lagi.
Namun Lutfi enggak berkomentar saat ditanya mengenai tender offer Qtel atas saham Indosat yang kemungkinan tidak bisa dilakukan hingga maksimal karena akan terganjal Daftar Negatif Investasi.
"Saya nggak mau ngomong itu, tapi saya sayangkan dia menjelek-jelekkan bangsa Indonesia," pungkasnya.
(qom/ir)











































