Charoen Pokphand Bidik Pasar Indonesia Timur

Charoen Pokphand Bidik Pasar Indonesia Timur

- detikFinance
Selasa, 17 Jun 2008 13:27 WIB
Charoen Pokphand Bidik Pasar Indonesia Timur
Jakarta - PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) bidik pasar Indonesia Timur menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 24 Mei lalu.

"Dampak kenaikan BBM menurunkan daya beli di Jawa. Namun tidak begitu di luar Jawa, termasuk Indonesia Timur. Oleh karena itu, tahun ini fokus kami mengembangkan pasar di Indonesia Timur," ujar Wakil Presiden Direktur CPIN, Thomas Effendy, usai RUPS Tahunan di Hotel JW Mariott, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (17/6/2008).

Untuk keperluan tersebut, perseroan sedang menambah kapasitas pabrik pakan ternak di Makassar dan Lampung, serta melakukan perluasan peternakan (breeding farm) yang dimiliki perseroan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk dua feedmill di Makasar dan Lampung masing-masing dananya sekitar Rp 54 miliar dan Rp 30 miliar. Dana tersebut termasuk dalam capex kami tahun 2008 yang sebesar Rp 350 miliar," ujar Thomas.

Anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 350 miliar tersebut, diperoleh dari kas internal 60% dan 40% pinjaman dari Citibank.

Anggaran tersebut juga akan digunakan untuk pengembangan bisnis utama CPIN yang lain, yaitu Day Old Chick (DOC/ anak ayam) dan processing chicken (daging ayam olahan).

"Sekitar 30% capex untuk pengembangan dua bisnis tersebut," ulas Thomas.

Pada tahun 2007 lalu, produksi pakan ternak perseroan sebanyak 2 juta ton, DOC 480 juta ekor dan processing chicken Rp 28 ribu ton.

Melalui penambahan kapasitas pabrik feedmill d Makassar dan Lampung, CPIN menargetkan penambahan produksi sebanyak 300 ribu ton menjadi 2,3 juta ton di 2008.

"DOC tahun ini kami targetkan tumbuh 20% menjadi sekitar 576 juta ekor. Untuk processing chicken tumbuh paling pesat lebih dari 50% setiap tahunnya. Jadi target kami tahun ini produksi sekitar 42 ribu ton processing chicken," papar Thomas.

Berbagai langkah tersebut akan difokuskan penjualannya pada pasar di Indonesia Timur. Melalui strategi tersebut, CPIN optimistis masih dapat mempertahankan pangsa pasarnya di tengah kenaikan BBM pada tahun 2008 ini.

"Kami melihat kenaikan BBM tidak menekan daya beli masyarakat di luar Jawa. Karena kenaikan BBM diiringi dengan kenaikan harga komoditas perkebunan dan pertambangan yang banyak di luar Jawa. Jadi potensi pasar Indonesia Timur justru positif," ulas Thomas.

Dengan membidik pasar Indonesia Timur, CPIN menargetkan pertumbuhan perolehan penjualan cukup signifikan di tahun 2008 hampir 40% menjadi Rp 12 triliun dari sebelumnya Rp 8,7 triliun.

Mengenai dividen, pemegang saham menyetujui untuk tidak membagikan dividen tahun 2007 lalu. Laba bersih CPIN di 2007 sebesar Rp 185,5 miliar.

"Alasannya karena akibat kenaikan harga komiditi membuat kami membutuhkan modal kerja lebih banyak. Jadi laba bersih 2007 kami tempatkan pada dana cadangan," ulas Thomas. (dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads