BI Jaga Rupiah Agar Pelaku Pasar Nyaman

BI Jaga Rupiah Agar Pelaku Pasar Nyaman

- detikFinance
Rabu, 18 Jun 2008 15:39 WIB
BI Jaga Rupiah Agar Pelaku Pasar Nyaman
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengaku akan terus masuk ke pasar menjaga rupiah. Tujuannya untuk membuat pelaku pasar nyaman terhadap perekonomian Indonesia.

"Untuk rupiah ini dari waktu ke waktu BI akan masuk pasar, tujuannya untuk membuat pelaku pasar terus confident terhadap perekonomian kita," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono dalam rapat dengan Panitia Anggaran DPR di gedung DPR, Jakarta, Rabu (18/6/2008).

Sejak Selasa (17/6/2008) hingga Rabu (18/6/2008) rupiah sudah menguat di bawah 9.300-an per dolar AS. Menurut Hartadi, pelemahan rupiah yang terjadi beberapa hari lalu lebih disebabkan faktor eksternal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena pelemahan rupiah itu bukan terjadi akibat outflow (dana keluar) yang besar tapi memang genuine demand yang besar dari Pertamina dan PLN karena harga minyak terus naik," jelas Hartadi.

Diakui Hartadi, volume pasar valas Indonesia sangat kecil sehingga jika terjadi guncangan kecil saja akan langsung berpengaruh ke rupiah.

Sementara untuk inflasi, menurut Hartadi, pengaruh dari kenaikan BBM masih akan terasa di bulan Juni karena bulan lalu dampaknya belum penuh.

"Kalau melihat pengalaman 2005 itu pengaruhnya bisa 2 atau 3 bulan ke depan. Jadi pada bulan ini month to month sudah akan terasa," katanya.

Hartadi mengamini prediksi inflasi bulan Juni yang kemungkinan masih di atas 1%. "Kemungkinan di atas 1% masih bisa terjadi melihat dampak kenaikan harga BBM yang masih akan terasa. Transportasi kan belum naik semuanya," ujar Hartadi.

Dia menjelaskan, untuk menekan inflasi tidak hanya diredam melalui kebijakan suku bunga tapi juga harus dibarengi penguatan rupiah.

"Secara fundamental, rupiah itu kan harusnya bisa menguat, apalagi account kita masih surplus dan sampai akhir 2008 bisa mencapai US$ 11,5 miliar dan itu bisa membantu penguatan rupiah," katanya.

BI memperkirakan inflasi bisa sampai 11,5%-12,5% di akhir tahun dan akan menurun di tahun depan. "Karena memang fluktuasinya seperti itu dan kalau memang investor percaya dengan itu maka dia akan mengikuti jadi tidak minta yield tinggi dan mereka tidak akan mengira-ngira sendiri dan itu tegas pemerintah untuk membuat investor percaya," urai Hartadi.


(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads