Mustika Ratu Bidik Pasar Kosmetik Barat

Mustika Ratu Bidik Pasar Kosmetik Barat

- detikFinance
Rabu, 18 Jun 2008 17:58 WIB
Mustika Ratu Bidik Pasar Kosmetik Barat
Jakarta - Perusahaan kosmetika PT Mustika Ratu Tbk (MRAT) sedang menjajaki penjualan kosmetik dan jamu ke negara-negara barat alias Eropa, Australia dan Amerika Serikat.

"Saat ini kami sedang menjajaki pasar kosmetik dan jamu tradisional ke negara-negara Eropa, Australia dan Amerika Serikat," ujar Vice President Director MRAT, Putri K Wardhani, usai RUPS Tahunan di Aula Sasono Wiwoho, Jl Ki Mangun Sarkoro, Jakarta, Rabu (18/6/2008).

Saat ini pasar ekspor produk-produk MRAT adalah ke Malaysia, Arab Saudi, Rusia, Eropa Timur, Kanada, Hongkong dan Papua New Guinea.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara umum produk-produk utama yang disukai negara-negara tujuan ekspor masih di base bisnis kami yaitu, kosmetik dan jamu dari keraton culture," ujar Putri.

Rencana perseroan menambah negara tujuan ekspornya, merupakan strategi untuk tetap mempertahankan target pertumbuhan penjualan tahun ini, terkait adanya kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Tahun ini pasar ekspor akan kami tingkatkan hingga 40% porsinya. Tahun lalu, porsi penjualan ekspor sekitar 20%," jelas Putri.

Target pertumbuhan penjualan perseroan tahun ini sebesar 27%. Terkait adanya kenaikan BBM, Putri mengatakan belum akan merivisi target, walaupun ia menyadari tentu daya beli masyarakat akan menurun akibat kebijakan tersebut.

"Salah satu strateginya adalah meningkatkan pasar ekspor. Namun, untuk pasar domestik, kami kira akan tetap bagus hanya sedikit melambat. Kami memandang bahwa mereka yang ingin tampil sehat dan cantik tidak akan mengubah keinginannya dalam kondisi apa pun," ujar Putri.

Atas alasan itulah, MRAT menyatakan masih optimis akan dapat mencapai target pertumbuhan penjualan tahun ini.

Mengenai kenaikan harga produk-produk MRAT, Putri mengatakan bahwa pihaknya masih menghitung dengan cermat untuk mengambil opsi tersebut.

"Kenaikan BBM jelas berdampak pada beban perusahaan, sekitar 10-15%. Namun untuk menaikkan harga harus dihitung dengan cermat, agar tidak kehilangan konsumen. Jadi belum ada angka yang pasti berapa kenaikan harga yang akan kami kenakan," jelas Putri.

Putri menambahkan bahwa sebenarnya pihaknya tidak ingin menaikkan harga. MRAT meminta agar pemerintah dapat mengatur tata niaga dengan sebaik-baiknya, terutama terkait adanya trading term yang cukup tinggi dari toko-toko ritel.

"Saya tidak mau sebut nama, tapi ada ritel yang mengenakan trading term hingga 70% dari harga jual. Ini kan tinggi sekali. Padahal kalau trading term itu dipangkas, tentu kami sebagai produsen dapat tetap mempertahankan harga jual walaupun terjadi kenaikan beban usaha akibat BBM," tegas Putri.

Oleh karena itu, ia mewakili produsen industri meminta agar di tengah kenaikan BBM, pemerintah mau menurunkan trading term dari peritel-peritel, agar distributor maupun produsen dapat tetap mempertahankan konsumen-konsumennya. (dro/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads