"SIUP penerbangan reguler telah dikeluarkan dephub 1 April 2008. Kami harapkan secepatnya bisa beroperasi, mungkin triwulan IV," ujar Presiden Direktur IATA, Hartono Tanoesoedibjo, usai RUPS Tahunan di Menara Kebon Sirih, Jl Kebon Sirih Raya, Jakarta, Kamis (19/6/2008).
IATA sudah sejak beberapa tahun lalu memiliki rencana untuk mengoperasikan pesawat reguler. Namun, rencana tersebut diharapkan baru bisa terlaksana tahun ini, setelah SIUP penerbangan reguler dikeluarkan oleh dephub.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Hartono menyatakan pada tahun 2008 belum berencana menambah armada pesawatnya.
"Tahun ini kami hanya akan menambah armada helikopter. Pesawat belum ada rencana," ungkap Hartono.
Per penutupan tahun 2007, jumlah armada pesawat IATA ada 10 unit. Sedangkan armada helikopter pada tahun yang sama sebanyak 6 unit.
Hartono belum dapat memberikan informasi berapa jumlah pesawat yang akan digunakan untuk keperluan penerbangan reguler tersebut.
"Jumlahnya belum pasti. Namun rutenya sudah ditentukan, kami tetap mengutamakan jalur penerbangan di Indonesia Timur," ungkap Hartono.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, IATA tinggal menunggu dikeluarkannya izin operator penerbangan reguler, setelah mengantongi SIUP penerbangan reguler April lalu.
"Kami harapkan dalam waktu dekat," ujar Hartono.
Selain rencana mengoperasikan pesawat reguler di Indonesia Timur, IATA juga berencana menambah armada helikopternya sebanyak 3 unit lagi hingga tahun 2009.
"Helikopter tahun ini kami tambah 1 unit," ungkap Hartono.
Dana yang dibutuhkan untuk menambah 3 unit helikopter tersebut diperkirakan sebanyak US$ 30 juta. Pendanaannya masih dalam pembicaraan perseroan.
"Opsi pendanaan dari perbankan, obligasi atau kombinasi keduanya," ujar Hartono.
Hartono menambahkan, saat ini sudah ada sekitar 3-4 bank lokal dan asing yang sudah tertarik mengucurkan pendanaan ke IATA.
"Nama-nama banknya masih belum bisa di-ekspose," ujar Hartono.
Sebagai tambahan informasi, pada Maret lalu IATA telah mendapatkan pinjaman syariah sebesar US$ 31 juta untuk penyediaan 3 unit helikopter baru tahun lalu..
Pinjaman US$ 31 juta tersebut diperoleh dari Bank Syariah Mandiri US$ 3 juta, Bank Muamalat US$ 1 juta, Al Ijarah US$ 1 juta, Bank Permata Syariah US$ 10 juta, Asian Finance Bank US$ 7 juta dan ILIC US$ 9 juta.
Penyediaan 3 helikopter tersebut dalam rangka kerjasama IATA dengan West Natuna Consorsium (WNC). WNC yang terdiri dari Conoco Philips, Premier Oil dan Star Energy, menyewa 3 helikopter IATA selama 5 tahun dengan nilai US$ 50 juta.
"Tahun ini kami juga baru mendapatkan kontrak penyewaan helikopter oleh INCO senilai US$ 3,6 juta," ungkap Hartono.
Penyewaan helikopter oleh PT International Nickel Corporation Tbk (INCO) tersebut untuk jalur Sorowako-Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Sorowako merupakan lokasi tambang INCO.
Dengan adanya beberapa kontrak penyewaan helikopter dari perusahaan-perusahaan tersebut, IATA optimistis tahun ini dapat meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 50%.
Pada tahun 2007, IATA membukukan pendapatan sebesar Rp 217 miliar. Dengan asumsi pertumbuhan tersebut, IATA bisa membukukan pendapatan sebesar Rp 325,5 miliar tahun ini.
(dro/ir)











































