"Kalau melihat tingkat suku bunga yang tinggi saat ini, sepertinya kami akan mengesampingkan opsi penerbitan obligasi," ungkap Direktur Keuangan WIKA, Ganda Kusuma saat dihubungi detikFinance, Rabu (2/7/2008).
Sebelumnya, WIKA berencana menerbitkan obligasi Rp 200 miliar terkait rencana perseroan mengakuisisi sebuah perusahaan kontraktor pertambangan yang beroperasi di Kalimantan dan Sulawesi. Saat ini masih dalam tahap due diligence, sehingga ia belum bisa menyebutkan nama kontraktor tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun masih dalam proses, namun Ganda memberikan perkiraan kasar nilai akuisisi tersebut sekitar Rp 150 miliar. Sementara untuk pendanaan, karena perseroan memutuskan menahan dulu opsi penerbitan obligasi, maka WIKA memilih menggunakan kas internal.
"Saat ini posisi kas internal perseroan masih cukup kuat kok, sekitar Rp 400 miliar. Jadi kemungkinan besar pendanaan akuisisi diambil dari kas internal," ungkap Ganda.
Selain itu, WIKA juga baru saja merampungkan akuisisi 51% saham PT Cipta Insan Pertiwi (CIP) senilai Rp 40 miliar. CIP adalah kontraktor mechanical electrical dan engineering yang beroperasi di Jakarta.
"Penandatangan kerjasama telah dilakukan dan eksekusi dilakukan paling lambat 30 hari setelah itu," ujar Ganda.
WIKA juga tengah melakukan pembicaraan untuk mengakuisisi 70% saham PT Marga Nusasumo Agung (MNA), pengelola jalan tol Surabaya-Mojokerto. Nilainya ditaksir sekitar Rp 300 miliar. Kesepakatan hasil pembicaraan diharapkan rampung akhir Juli ini.
"Pendanaan dua akuisisi itu menggunakan sisa dana IPO yang masih ada sekitar Rp 340 miliar," ulas Ganda.
Sementara untuk pendanaan proyek-proyek terdepan, selain dari kas internal, WIKA masih memiliki fasilitas pinjaman kurang lebih Rp 800 miliar dari 7 bank.
"Kami punya fasilitas pinjaman working capital dari Mandiri, BRI, Danamon, DBS, Panin, Mega dan Bukopin. Jumlahnya sekitar Rp 700-800 miliar," ungkap Gan (dro/ir)











































