"Tingginya harga batubara akan mendorong perolehan penjualan perseroan. Proyeksi kami lebih dari US$ 750 juta tahun ini," ujar Direktur Keuangan Bayan, Alastair McLeod, usai paparan publik di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Rabu (2/7/2008).
Tahun lalu, volume penjualan batubara perseroan sebanyak 7,1 juta ton di harga rata-rata US$ 51 per ton, sehingga Bayan membukukan penjualan sebesar US$ 362 juta. Sementara produksi batubara perseroan tahun lalu sebanyak 4,7 juta ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya, tahun ini perseroan bakal memperoleh penjualan batubara sebesar US$ 752-792 juta, atau tumbuh signifikan antara 207-218,8% dibanding tahun lalu.
Saat ini Bayan memiliki 8 tambang. Namun yang baru dioperasikan baru 3 tambang yaitu Gunungbayan, Wahana dan Perkasa Inakakerta. Lima tambang lainnya yaitu Teguh-Firman dan Fajar-Taba-Brian (FTB), masih dalam tahap pengembangan dan pembangunan infrastruktur.
"Sekitar Rp 800 miliar hingga Rp 1,02 triliun dari dana IPO, akan digunakan untuk pengembangan proyek Wahana, Perkasa dan FTB. Teguh-Firman baru mulai pembangunan infrastruktur," papar Alastair.
Rencananya, dari target produksi batubara tahun 2008, komposisinya akan diambil dari Gunungbayan blok II sebesar 4,5 juta ton, Wahana 2 juta ton, Perkasa 2 juta ton dan Taba 500 ribu ton.
Hingga akhir triwulan I lalu, jumlah cadangan terbukti perseroan ada sebesar 78,7 juta ton dengan total cadangan sebesar 476,9 juta ton. Sementara resources batubara Bayan ada sebesar 1 miliar ton.
Dana IPO
IPO Bayan Resources bisa meraup Rp 8,1 triliun. Sebab, dalam IPO tersebut, perseroan bisa melepas saham hingga 31,6% dengan opsi over subscription dan over allotment.
Struktur penawaran saham perdana Bayan terdiri dari 833.333.500 lembar ditambah opsi oversubscription 83.333.500 lembar dan opsi over allotment 137.500.500 lembar.
Kisaran harga saham IPO Bayan dipatok mulai Rp 5.600 hingga Rp 7.700 per saham. Harga tersebut dinilai cukup tinggi. Namun ketika dikonfirmasi ke pihak penjamin emisi, kisaran harga tersebut sudah sesuai dengan perhitungan.
"Ketetapan harga tersebut didasarkan pada prospek perusahaan ke depan dan perhitungan price earning ratio (PER) Bayan yang mencapai 6 hingga 8 kali," ujar Senior Director Investment Banking PT Trimegah Securities, Akhabani.
Dengan harga tersebut, dana yang akan diperoleh dari pelepasan saham tersebut antara Rp 4,666 triliun hingga Rp 6,416 triliun.
Jika ditambah dengan eksekusi seluruh opsi oversubscription pada kisaran harga yang sama, maka perolehan dana akan mencapai Rp 5,133-7,058 triliun.
Sementara jika seluruh opsi over allotment juga dieksekusi di harga yang sama, maka perolehan dana bisa mencapai Rp 5,9-8,1 triliun.
Angka tersebut diatas sudah melampaui IPO PT Indika Energy Tbk (INDY), emiten batubara yang baru saja mencatatkan sahamnya di bursa pada 11 Juni lalu. INDY melepas 937,284 juta saham di harga Rp 2.950 per saham, sehingga meraup dana sebesar Rp 2,764 triliun.
Perusahaan batubara lainnya yang juga berencana mencatatkan sahamnya di bursa adalah PT Adaro Energy. Adaro akan melepas 11,139 miliar lembar saham di harga Rp 1.100 per saham, sehingga dana yang akan diperoleh Adaro akan mencapai Rp 12,252 triliun.
Namun hingga saat ini, Adaro belum memperoleh pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) karena ada beberapa masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Seandainya penundaan tersebut masih berlangsung hingga Bayan mencatatkan sahamnya di Bursa, maka IPO Bayan akan sempat menjadi emiten yang meraup dana IPO terbesar.
Hingga saat ini, total perolehan dana IPO terbesar masih diduduki oleh PT Jasa Marga Tbk (JSMR) yang mencatatkan sahamnya di bursa pada 12 November 2007. Ketika itu, JSMR melepas 2,04 miliar saham di harga Rp 1.700 per saham, sehingga total dana yang diperoleh JSMR mencapai Rp 3,468 triliun.
Cukup jauh jika dibandingkan target dana perolehan IPO Bayan yang berada di kisaran Rp 4,66 triliun hingga Rp 8,1 triliun.
Β (dro/ir)











































