Harga minyak di pasar Asia akhirnya menembus US$ 145 per barel setelah adanya laporan tentang kekhawatiran suplai dan melemahnya lagi dolar AS.
Minyak jenis Brent pada perdagangan Kamis (3/7/2008) di Asia diperdagangkan di level US$ 145 per barel, atau 74 sen lebih tinggi dari penutupan di pasar London kemarin di level US$ 144,26 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lonjakan harga minyak terjadi setelah Menteri Perminyakan Iran, Gholam Hossein Nozari menyatakan bahwa negaranya siap memberikan perlawanan yang sengit terhadap setiap serangan.
"Iran, jika ada setiap ancaman tidak akan diam dan akan bereaksi dengan sengit," ujarnya disela-sela World Petroleum Kongres di Madrid seperti dikutip dari AFP.
Ia menegaskan, harga minyak selama ini terus melonjak karena didorong kekhawatiran tentang berkurangnya pasokan minyak Iran yang sebesar 4 juta barel. Dan kekhawatiran itu akan semakin meningkat jika AS melancarkan serangan militernya.
Sentimen itu diperparah setelah Energy Information Administration AS menyatakan cadangan minyak mentah negara adikuasa itu turun hingga 2 juta barel untuk minggu yang berakhir 27 Juni.
Bursa Asia Berjatuhan
Melonjaknya kembali harga minyak mentah dunia langsung menyungkurkan bursa saham Asia. Bursa China, Jepang yang menjadi acuan di regional mengalami penurunan yang tajam
Shanghai Composite Index, yang meliputi saham A dan B merosot hingga 69,75 poin ke level 2.581,97 pada awal perdagangan.
Sementara indeks Nikkei-225 dibuka masih merosot hingga 9,19 poin (0,07%) ke level 13.277,18 saat berakhirnya sesi I. Indeks Hang Seng anjlok 314,96 poin ke level 21.389,49.
IHSG di BEI pada pukul 10.00 waktu JATS merosot hingga 74,76 poin (3,14%) ke level 2.303,714.
(qom/ir)











































