XL Butuh Dana US$ 550 Juta

XL Butuh Dana US$ 550 Juta

- detikFinance
Kamis, 03 Jul 2008 11:00 WIB
XL Butuh Dana US$ 550 Juta
Jakarta - Operator seluler, PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) masih mencari pendanaan sebesar US$ 550 juta untuk memenuhi kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) dan agenda pembiayaan kembali utang (refinancing) tahun ini.

"Dana yang masih kami butuhkan sekitar US$ 550 juta tahun ini. Opsi-opsi pendanaan masih dalam pembicaraan," ujar Investor Relations XL, Sylvia Hardiman saat dihubungi detikFinance, Kamis (3/7/2008).

Tahun ini, XL memiliki agenda melakukan refinancing atas outstanding debt perseroan yang sudah mencapai Rp 9,66 triliun. Rencananya, refinancing yang akan dilakukan tahun ini XL US$ 600 juta atau Rp 5,4 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seluruh pendanaan refinancing tahun ini berasal dari pinjaman bank," ujar Sylvia.

Selain agenda refinancing, XL juga baru saja menaikkan anggaran capex tahun 2008 menjadi US$ 1 miliar dari sebelumnya US$ 650 juta.

"Komposisi pendanaan capex yang lama US$ 300 juta kas internal dan US$ 350 juta. Sehingga total dana eksternal menjadi sebesar US$ 950 juta," jelas Sylvia.

Hingga akhir Juni, dana pinjaman bank yang telah diperoleh XL baru sebesar US$ 750 juta, terdiri dari Mandiri Rp 4 triliun, BCA Rp 2 triliun, ABN AMRO US$ 50 juta dan HSBC US$ 50 juta.

Sehingga pinjaman bank yang masih dibutuhkan XL sebesar US$ 200 juta tahun ini. Sementara terkait adanya peningkatan capex dari US$ 650 juta menjadi US$ 1 miliar, Sylvia mengatakan perseroan masih membicarakan mengenai opsi-opsi pendanaannya.

"Jika mengacu pada porsi capex lama, maka kas internal tetap sebesar US$ 300 juta dan sisanya US$ 700 juta dari pinjaman bank," ulas Sylvia.

Jadi total dana yang dibutuhkan XL tahun mencapai US$ 1,6 miliar. Sejauh ini, pendanaan eksternal yang telah diperoleh perseroan sebesar US$ 750 juta. Jadi masih harus dipenuhi sebesar US$ 850 juta.

"Porsi yang lama kan kas internal sekitar US$ 300 juta, jika mengacu pada itu, maka pinjaman yang masih dibutuhkan sekitar US$ 550 juta," ulas Sylvia.

Namun, Sylvia mengatakan fokus XL tahun ini tetap mencari kekurangan US$ 200 juta sesuai dengan komposisi pendanaan yang lama.

"Fokus kami tetap mencari pinjaman yang US$ 200 juta. Untuk kekurangan US$ 350 juta lagi masih dibicarakan apakah akan menggunakan kas internal, pinjaman bank, atau menunggu hasil penjualan menara," ungkap Sylvia.

Saat ini, XL memang sedang melakukan due dilligence dengan beberapa perusahaan untuk penjualan menara telekomunikasi sebanyak 7.200 menara.

"Nilai penjualan menara belum bisa dipastikan. Namun kami harapkan akhir Juli ini sudah rampung, sehingga kami bisa menentukan sumber kekurangan pendanaan yang masih sebesar US$ 350 juta," papar Sylvia.

Sylvia mengungkapkan, jika hasil penjualan menara cukup besar, maka kemungkinan kebutuhan US$ 350 juta itu akan dari kas internal seluruhnya. Namun jika tidak mencukupi, perseroan akan kembali mencari pinjaman bank.

"Mungkin untuk kekurangan US$ 350 juta itu, sekitar US$ 50-100 juta ditambah dari kas internal, dan sisanya sekitar US$ 250-300 juta dari pinjaman bank," ujar Sylvia.
(dro/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads