Kini pelaku pasar menunggu atraksi saham Adaro yang akan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Juli 2008. Apakah calon emiten terbesar di BEI tahun 2008 ini bisa bergerak lincah atau justru sebaliknya?
Pengamat saham Alfatih dari BNI Securities mengatakan, listing saham Adaro memang ditunggu-tunggu pelaku pasar. Dengan harga IPO yang relatif terjangkau Rp 1.100, saham Adaro akan bisa bergerak atraktif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah saham Adaro yang dijual sebanyak 11,139 miliar saham atau 34,83%. Sehingga dengan harga Rp 1.100 saham, Adaro bisa meraup dana Rp 12,3 triliun.
Masa penawaran saham Adaro digeber di 4 kota besar Indonesia pada 8-10 Juli 2008. Adaro menargetkan perolehan dana dari investor lokal (ritel) itu sebesar Rp 3 triliun lebih. Sedangkan dari total perolehan dana IPO sebesar 25% merupakan dana dari investotr lokal dan sisanya asing.
Alfatih menilai saham Adaro cukup prospektif karena tren harga batubara yang terus naik akibat tingginya permintaan komoditas batubara. Apalagi Adaro merupakan 6 perusahaan terbesar batubara di Indonesia.
Produksi Adaro yang sebesar 40 juta ton, berada di urutan kedua setelah Bumi Resources yang produksinya sekitar 60 juta ton.
Alfatih juga melihat kasus hukum pemegang saham lama Adaro yakni Beckkett Vs Dianlia tidak akan terlalu berpengaruh ke sahamnya, jika emiten tersebut mampu mencapai target-target kinerjanya.
"Karena nanti pergerakan saham itu berdasarkan fundamental pertumbuhan kinerja, masalah gugatan hukum kebanyakan semua perusahaan terbuka mengalaminya," kata Alfatih.
Gara-gara belum jelasnya kasus hukum tersebut, Bapepam sampai menunda pemberian pernyataan efektif dari seharusnya 20 Juni menjadi 4 Juli. Bapepam harus berkonsultasi dulu dengan konsultan hukum untuk melihat secara jelas kasus hukum Adaro di Pengadila Singapura.
"Tapi kalau Bapepam berani mengeluarkan pernyataan efektif, itu berarti kasus hukumnya dalam posisi yang jelas," ujar Alfatih.
Lalu sampai sebarapa tinggi saham Adaro akan terbang? Alfatih mengaku belum bisa melakukan hitungan karena sahamnya belum tercatat di bursa.
Saham Adaro setelah IPO dimiliki oleh PT Saratoga Investama Sedaya 14,93%, PT Triputra Investindo Arya 13,34%, PT Persada Capital Investama 11,01%, Garibaldi Thohir 7,8%, PT Trinugraha Thohir 7,8%, Edwin Soeryadjaya 4,3%, T Permadi Rachmat 2,27%, Sandiago Salahuddin Uno 2,07%, Subianto 1,3%, PT Saratoga Sentra Business 0,25% dan masyarakat 34,83%.
(ir/qom)











































