Managing Partner & CEO Henan Putihrai Ferry Sudjono sebagai lead underwriter pelaksanaan Go Public KBRI, mengatakan tingginya tingkat permintaan investor menunjukkan potensi investasi yang besar terhadap saham KBRI.
"Dari hasil analisa dan pengamatan kami, terlihat semakin banyak investor baik ritel maupun institusi yang berminat pada saham industri kertas di Indonesia seperti KBRI," jelas Ferry dalam siaran pers yang diterima, Rabu (9/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara keseluruhan KBRI juga mempunyai bisnis yang terintegrasi karena memiliki pabrik kertas sekaligus Hutan Tanaman Industri (HTI)," kata Ferry Sudjono.
Selain itu, pengoperasian Paper Machine 2 oleh anak perusahaan KBRI yaitu PT Kertas Basuki Rahmat diharapkan bisa melipatgandakan hasil produksi yang akan meningkatkan revenue perusahaan secara berkesinambungan.
"Dan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi investor untuk memilih saham KBRI," kata Ferry.
Harga akhir penawaran saham telah ditetapkan sebesar Rp 260 per sahamnya, sedangkan harga pelaksanaan warannya adalah sebesar Rp 265 per waran, dengan rasio saham terhadap waran 272:175. Dengan penetapan harga tersebut, total dana yang dihimpun melalui penawaran umum perdana saham ini adalah sejumlah Rp 353.600.000.000.
"Sebesar 87% dari dana hasil IPO akan kami gunakan untuk mengkonsolidasikan bisnis kertas kami, dengan cara mengakuisisi 65,9% saham KBRI pada anak perusahaan yaitu Kertas Basuki Rachmat (KBR), dan sisanya untuk modal kerja Perseroan," kata Direktur Utama KBRI Yusuf Ardhi.
Dengan selesainya proses penjatahan saham, maka terhadap jumlah saham IPO yang ditawarkan, investor asing mendapatkan porsi sebesar 67,8% dan investor domestik 32,2%.
"Melihat hasil penawaran umum perdana saham KBRI, kami juga optimis harga saham ini semakin menarik setelah diperdagangkan di pasar sekunder nanti di Bursa Efek Indonesia," tambah Ferry Sudjono. (dnl/qom)











































