Rupiah terus melesat diduga karena ada peran bank sentral. BI menjaga penguatan rupiah untuk menekan inflasi terutama inflasi dari barang-barang impor.
Sedangkan pasar saham dalam negeri mengikuti anjloknya bursa regional dan Wall Street karena kekhawatiran akan buruknya kinerja perusahaan pembiayaan besar seperti Freddie Mac, Fannie Mae dan IndyMac Bank yang mulai mengganggu kepercayaan investor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perdagangan saham sesi siang mencatat transaksi sebanyak 20.639 kali, dengan volume 786 juta unit saham, senilai Rp 1,207 triliun. Sebanyak 38 saham naik, 144 saham turun dan 44 saham stagnan.
Bursa kawasan yang merosot antara lain Hang Seng turun 3,23%, Seoul turun 3,03%, KOSPI turun 2,99%, Nikkei turun 2,02%, Shanghai turun 2,51%, STI Singapura turun 1,81%, dan Taiwan turun 3,76%.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 200 menjadi Rp 5.300, Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 7.200, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 25 mejadi Rp 3.000, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 50 menjadi Rp 11.600 dan International Nickel Indonesia (INCO) turun Rp 200 menjadi Rp 4.900.
(ir/qom)











































