"Pinjaman tersebut akan digunakan untuk mendanai proyek power plant kami di Kalimantan Selatan," ujar Corporate Secretary Adaro, Andre J Mamuaya saat dihubungi detikFinance, Rabu (16/7/2008).
Power plant yang akan dibangun perseroan memiliki kapasitas 2x30 megawatt (MW). Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan sebesar US$ 151,8 juta.
"Pendanaan power plant dari pinjaman IFC sebesar US$ 121,8 juta. Sisanya sebesar US$ 30 juta dari kas internal," jelas Andre.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembangkit listrik tersebut juga akan menjual kelebihan kapasitas produksi energi ke jaringan listrik lokal," ujar Andre.
Pembangkit listrik juga akan digunakan untuk mengangkut batubara Adaro melalui ban berjalan (conveyor belt) sepanjang 68 kilometer yang akan dibangun perseroan awal tahun depan.
"Dengan adanya pembangkit listrik tersebut, akan mengurangi biaya impor solar hingga US$ 100 juta per tahun, sekaligus akan mengurangi biaya operasional secara substansial," ujar Andre.
Mengenai pinjaman di atas, jumlah yang secara langsung dikucurkan IFC sebesar US$ 25 juta, sisanya sebesar US$ 96,8 juta dikucurkan dari 5 bank asing yang digalang oleh IFC selaku lead arranger. Lima bank tersebut antara lain ING Bank, Calyon, DBS, KBC Bank dan Cordiant Capital.
Mengenai proyek pembangunan conveyor sepanjang 68 kilometer, nilai investasinya diperkirakan sebesar US$ 500 juta. Komposisi pendanaannya 75% pinjaman bank dan sisanya 25% kas internal.
Untuk pendanaannya, Andre mengatakan saat ini pembicaraan internal perseroan masih dalam tahap pembahasan masalah teknis.
"Jadi belum masuk tahap opsi-opsi pendanaan dan penjajakan dengan bank tertentu," ujar Andre.
Andre hanya mengatakan untuk pendanaan proyek conveyor, sudah ada beberapa bank asing maupun lokal yang berminat mengucurkan pinjamannya.
"Sudah ada 3 bank lokal dan asing yang tertarik mendanai proyek conveyor. Namun belum kami putuskan," ujar Andre. (dro/ir)











































