Perusahaan jasa energi itu melepas 1,782 miliar saham biasa atau setara 30%. Saham tersebut akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 26 Agustus 2008.
Selain saham, perseroan juga melepas waran sebanyak 1,425 miliar waran seri I dengan nilai nominal Rp 100 yang periode pelaksanaannya dapat dilakukan 26 Februari 2009 hingga 25 Agustus 2011.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perseroan dalam jumpa paparan publik di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Kamis (10/7/2008) mengatakan telah menunjuk tiga penjamin emisi yakni PT Recapital Securities, PT Madani Securities, dan PT Ciptadana Securities.
Dana hasil IPO akan digunakan perseroan sebesar 90% untuk membiayai kegiatan investasi perseroan dan anak usaha, untuk membeli fasilitas produksi minyak dan gas bumi, membeli rig dan alat-alat pengeboran untuk LNG. Sisanya 10% digunakan untuk modal kerja.
Setelah IPO pemegang saham perseroan adalah, PT Edipse Pacific Service 55,30%, PT Barata Makmur Abadi 6,86%, PT Gitapratama Nusapermai 1,72%, PT Baron Makmur Perkasa 1,72%, PT Geo Link Indonesia 1,57%, PT Microfin Cipta Perdana 1,53%, PT Masdi Citra Resources 1,14%, Stephen Anthony Heizer 0,16% dan publik 30%.
Kinerja perseroan per 31 Maret 2008 mencatat pendapatan Rp 65,639 miliar dan laba bersih Rp 9,543 miliar.
Dapat Kontrak Rp 10 Triliun
Prime melalui anak usahnya PT Indogas Kriya Dwiguna terpilih sebagai pemasok gas Bumi LNG pembangkit listrik milik PT Indonesia Power di Bali. Nilai kontraknya sebesar Rp 10 triliun.
Untuk itu Prime perlu investasi sebesar Rp 3 triliun. Dari proyek ini Prime telah mendapat pernyataan minat dari 4 perusahaan internasional di bidang penyediaan teknologi LNG.
"Kami menjadi pionir di Indonesia dengan menggunakan teknologi mini LNG yang sudah mencapai tingkat efisiensi tinggi, mudah-mudahan dapat diikuti oleh proyek-proyek sejenisnya," kata Presdir Prime, Faiz Shahab.
Sedangkan direktur keuangan Prime, Didit A.Ratam mengatakan pihaknya hingga kini masih melakukan pembicaraan terhadap empat bank, diantaranya dua dari asing dan dua dari lokal untuk melakukan sindikasi terkait investasi tersebut.
Rencananya dari nilai total investasi Rp 3 triliun, pembiayaan sindikasi perbankan mencapai 60-70%. Hingga tahun 2009 pemanfaatan investasi sebesar 60% akan dilakukan pada tahun tersebut. (ir/qom)











































