Bayan Resources Batalkan Opsi Redshoe

Bayan Resources Batalkan Opsi Redshoe

- detikFinance
Rabu, 06 Agu 2008 11:57 WIB
Bayan Resources Batalkan Opsi Redshoe
Jakarta - PT Bayan Resources Tbk membatalkan opsi pemesanan lebih (oversubscription atau redshoe) sebesar 10% dari jumlah saham yang akan dilepas ke publik pada IPO 6-8 Agustus 2008.

"Redshoe kami batalkan karena pemegang saham lama menilai tidak perlu melepas opsi tersebut," ujar Presiden Direktur Bayan, Eddie Chin Wai Fong, disela masa penawaran di Lapangan Parkir Semanggi Expo Lot 8, SCBD, Jakarta, Rabu (6/8/2008).

Sebelumnya, Bayan berencana memberikan opsi pemesanan lebih (redshoe) sebanyak 83.333.500 saham, atau setara dengan 10% dari total jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 833.333.500 saham dalam IPO mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Opsi redshoe merupakan opsi yang dapat dilakukan untuk memenuhi kelebihan permintaan selama tiga hari setelah masa penawaran hingga masuk masa penjatahan saham.

Kabarnya, selain terhambat masalah sengketa lahan dengan PT Porodisa di lokasi tambang PT Perkasa Inaka Kerta (PIK), tertundanya pernyataan efektif IPO Bayan juga disebabkan oleh adanya opsi redshoe tersebut.

Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Corporate Secretary Bayan, Jenny Quantero, tidak menyanggah kabar tersebut.

"Ya memang ternyata di Indonesia tidak ada peraturan mengenai opsi redshoe, jadi kami membatalkan opsi tersebut," jelas Jenny.

Selain opsi redshoe, Bayan juga menyiapkan opsi greenshoe (opsi penjatahan lebih/overallotment) sebanyak 125.000.000 saham diharga Rp 5.800. Tadinya greenshoe yang disiapkan Bayan sebanyak 137.500.500 saham. Namun karena opsi redshoe tidak jadi diberlakukan, jumlah greenshoe yang disiapkan menjadi sejumlah diatas.

"Opsi greenshoe masih kami siapkan untuk stabilisasi harga saham Bayan setelah IPO," ujar Eddie.

Mengenai tuntutan dari Plt Bupati Kutai Timur terhadap Bayan agar menghentikan sebagian kegiatan tambang PIK yang bersengketa dengan PT Porodisa beberapa waktu lalu, Eddie mengatakan pihaknya tidak akan menggubris permintaan tersebut.

"Kami masih mengoperasikan tambang PIK, dengan alasan kami sudah memperoleh izin dari ESDM. Namun kami masih melakukan koordinasi dengan masyarakat setempat dan ESDM untuk meng-clear-kan masalah ini," jelas Eddie. (dro/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads