"Strategi kami ke depan adalah mengurangi produksi timah batang atau ingot dan kami akan mengembangkan sektor hilir," ungkap Corporate Secretary TINS, Abrun Abubakar saat dihubungi detikFinance, Jumat (8/8/2008).
Langkah ini dilakukan oleh perseroan menyusul semakin kuatnya wacana pemerintah untuk membatasi ekspor timah dari Indonesia. Meski waktu penerapan riilnya masih dalam pembicaraan, namun untuk mengantisipasi diberlakukannya kebijakan tersebut, TINS menyiapkan strategi menguatkan sektor hilir industri timah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana pembangunan pabrik pengolahan timah untuk menghasilkan produk turunan seperti tin solder dan tin chemicals, memang menjadi agenda perseroan tahun ini.
Saat ini TINS sedang membangun 2 pabrik baru terdiri dari pabrik tin solder dan pabrik tin chemical, serta 1 pabrik ekstraksi aspal alam yang sedang dibangun di Buton.
Pabrik ekstraksi aspal alam di Buton merupakan pabrik yang dibangun untuk ekspansi usaha anak perusahaan, PT Timah Eksplorasi Mineral.
Dana pembangunan 3 pabrik tersebut termasuk dalam anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 1,4 triliun.
Meski Abrun belum dapat memberikan angka volume produksi pabrik-pabrik tersebut, namun sebagaimana dikatakan olehnya, pabrik-pabrik yang sedang dibangun itu nantinya akan dijadikan salah satu bentuk usaha utama perseroan, yaitu di sektor hilir.
Mengenai kinerja semester satu lalu, Abrun juga belum dapat memberikan angka pasti. Sebab laporan keuangan perseroan masih dalam proses audit.
"Namun kalau tidak salah, sepanjang semester satu lalu, volume penjualan timah batangan kami sekitar 24 ribu metrik ton," ujarnya.
Sedangkan target volume penjualan tahun ini diperkirakan akan menurun, yaitu di posisi 42 ribu metrik ton. Padahal tahun lalu, volume penjualan TINS mencapai 58.927 metrik ton, atau lebih tinggi 28,72%.
"Selain karena adanya wacana pembatasan timah, kami juga menilai tidak perlu mengeluarkan produksi terlalu banyak, agar harga di pasaran dunia tidak jatuh," jelas Abrun.
Menurut Abrun, dengan volume penjualan menurun 28,72% tersebut, secara pendapatan tetap akan naik. Sebab harga timah di pasar dunia sedang naik cukup tinggi sejak awal tahun 2008.
"Sepanjang semester satu harga timah di pasar dunia berkisar di US$ 19 ribu per metrik ton. Naik cukup tinggi dibandingkan harga penutupan tahun lalu," papar Abrun.
Pada penutupan tahun 2007, harga rata-rata timah dunia ditutup sebesar US$ 14.529 per metrik ton. Sementara harga rata-rata timah yang diterima perseroan sebesar US$ 14.474 per metrik ton.
Dengan asumsi tersebut, harga timah di semester satu sudah mengalami kenaikan sebesar 30,77% dibanding harga penutupan tahun lalu.
Meski demikian, Abrun yakin bahwa perseroan dapat mencapai target pertumbuhan laba sebesar 10% di 2008, sebagaimana diminta oleh pemerintah selaku pemegang saham mayoritas.
"Kami tetap optimistis dapat mencapai target pertumbuhan laba yang diminta pemerintah sebesar 10% tahun ini. Jika tahun lalu laba TINS sekitar Rp 1,7 triliun, maka tahun ini akan mencapai hampir Rp 1,9 triliun," ujar Abrun. (dro/ir)











































