Pada perdagangan saham awal pekan Senin (11/8/2008) IHSG diprediksi akan bergerak variatif dengan motor penggerak masih pada saham-saham tambang dan komoditas.
Tipisnya perdagangan saham pekan lalu juga menyiratkan transaksi saham belum akan meriah karena pelaku pasar masih akan melakukan pembelian secara selektif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara pada penutupan perdagangan saham Jumat pekan lalu (8/8/2008) IHSG turun 3,085 poin (0,14%) menjadi 2.195,926.
Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuriras.
Optima Securities
Indeks terkoreksi tipis 3 poin keposisi 2.195 disebabkan semua sektor melemah kecuali pertambangan yang rebound 2.7% yang dimotori saham BUMI. Sepinya sentimen ke bursa menyebabkan investor lebih suka short term trading sambil menunggu tren harga komoditas lebih lanjut. Indeks diperkirakan bergerak mixed dikisaran 2.180-2.210 dengan pilihan saham BUMI, PTBA, HEXA, TINS, dan PGAS.
Panin Sekuritas
IHSG sepanjang pekan lalu ditutup melemah -2.35% didorong oleh melemahnya saham berbasis komoditas. Fluktuasi harga minyak mentah, batubara, dan CPO menjadi penggerak indeks pada pekan lalu. Meski demikian, pada hari Jumat terlihat saham pertambangan, khususnya batubara, mulai bergerak naik (rebound). Sementara pekan ini, kami perkirakan saham pertambangan masih akan menjadi penggerak pasar. Secara teknikal, pergerakan IHSG dalam beberapa hari terakhir mengindikasikan ketidakpastian. Hal tersebut juga ditandai oleh melemahnya volume perdagangan. Untuk hari ini, kami belum melihat sinyal rally lebih lanjut pada IHSG. Kisaran support-resistance 2.170-2.225.
eTrading Securities
Bursa Indonesia pada perdagangan pekan lalu kembali bergerak sideways dan akhirnya ditutup di teritori negatif, seiring masih terkoreksinya harga-harga komoditas dunia dan efek kenaikan BI Rate pekan lalu. Indeks ditutup melemah 0,1% ke level 2.195,9. Indeks terlihat masih belum mampu bertahan diatas level psikologis 2200.
Sementara pada akhir pekan lalu, bursa US berhasil kembali rebound dan menguat seiring kembali turunnya harga minyak dunia ke level US$115,2 dan penguatan nilai tukar US$. Meski krisis di sektor finansial terkait subprime mortgage belum berakhir, ditandai dengan kerugian yang diderita mortgage-lender Fannie Mae pada kuartal kedua yang jauh melebihi ekspektasi pasar. Terkait hal ini, bursa Asia pada perdagangan pagi ini mayoritas dibuka menguat seiring kembali melemahnya harga
minyak dan komoditas.
Bursa Indonesia yang memiliki profile agak berbeda dengan bursa Asia dan US, dimana bursa Indonesia lebih didominasi oleh saham-saham berbasis komoditas diperkirakan masih belum akan mampu bangkit seiring terus melemahnya harga-harga komoditas dunia. Indeks pada perdagangan awal pekan ini diperkirakan akan mampu menguat terbatas menembus level 2200 dengan menyerap sentimen penguatan bursa US dan regional. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 2180 - 2225. (ir/ir)











































