Perusahaan batubara kini sedang dirundung banyak masalah mulai dari soal royalti hingga sengketa lahan. Dua isu tersebut akan membayangi pencatatan saham PT Bayan Resurces Tbk. Bukannya hanya masalah sengketa lahan tapi juga penurunan harga komoditas seiring turunnya harga minya dunia yang membuat investor memilih menjual dulu saham komoditasnya.
Pada perdagangan saham pukul 09.31 JATS, Selasa (12/8/2008) saham Bayan tidak beranjak di level Rp 5.800. Saham Bayan dengan kode perdagangan BYAN akan dicatatkan di papan utama justru mengalami tekanan bahkan sempat turun Rp 100.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dana hasil penawaran umum akan digunakan untuk mengakuisisi floating transfer station Rp 313,4 miliar. Untuk pengembangan usaha dan modal kerja Proyek Wahana Rp 368,7 miliar, pengembangan usaha dan modal kerja Proyek Perkasa Rp 322,6 miliar, pengembangan usaha dan modal kerja Proyek FTB Rp 138,3 miliar dan sisanya untuk penambahan aset batubara serta modal kerja lainnya.
Grup Bayan merupakan produsen batubara terbesar kedelapan di Indonesia dan pada tahun 2007 produksi batubaranya mencapai 4,7 juta ton. Kinerja perseroan tahun 2007 mencatat pendapatan Rp 3,451 triliun dan laba bersih Rp 252,7 miliar.
Pemegang saham perseroan setelah IPO adalah Dato' Low Tuck Kwong 56,3%, Jenny Quantero 11,3%, Engki Wibowo 7,5% dan publik 25%
Bayan Resources merupakan emiten saham ke-16 di BEI tahun 2008. Sebelumnya, sudah ada 15 emiten saham baru yang listing yaitu PT Bank Ekonomi Raharja Tbk, PT Bekasi Asri Pemula Tbk, PT Triwira Insanlestari Tbk, PT Elnusa Tbk, PT Yanaprima Hastapersada, PT BTPN Tbk dan PT Kokoh Inti Arebama, PT Gozco Plantation Tbk, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Verena Oto Finance Tbk (VRNA), PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk (PDES), PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (KBRI), PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Mandarine Hotel Regency Tbk (HOME).
(ir/ir)











































