Saham Komoditas Masih Berisiko

Saham Komoditas Masih Berisiko

- detikFinance
Rabu, 13 Agu 2008 07:37 WIB
Saham Komoditas Masih Berisiko
Jakarta - Saham-saham komoditas masih belum aman dari tekanan jual karena risiko harga komoditas yang terus menyusut seiring turunnya harga minyak dunia ke US$ 113 per barel.

Selama ini harga komoditas kerap mengikuti gerak dari harga minyak, karena sejumlah komoditas seperti batubara, CPO adalah pengganti dari emas hitam tersebut.

Tapi kini melemahnya permintaan minyak dunia terutama dari China memberikan sinyal dalam jangka pendek ini harga minyak cenderung melandai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibatnya pada perdagangan saham Rabu (13/8/2008), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan mengalami tekanan. Selain faktor bursa regional dan Wall Street yang juga akan berpengaruh.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa waktu AS (12/8/2008) indeks Dow Jones turun 139,88 poin (1,19%)m enjadi 11.642,47, Nasdaq turun 9,34 poin (0,38%) menjadi 2.430,61 dan S&P 500 turun 15,72 poin (1,2%) menjadi 1.289,59.

Saham-saham di Wall Street menggelinding karena pasar merespons negatif angka-angka kerugian perbankan yang kian besar buntut dari krisis subprime mortgage sejak tahun lalu.

Sedangkan pada penutupan perdagangan saham Selasa kemarin (12/8/2008) IHSG turun tajam 76,341 poin (3,58%) ke posisi 2.057,579 yang merupakan posisi terendah di 2008.

Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.

Panin Sekuritas

IHSG kemarin anjlok -3.58% menuju titik terendah sepanjang tahun. Pelemahan IHSG tidak lepas dari melemahnya saham berbasis komoditas (pertambangan), di tengah trend melemah harga minyak dunia. Secara teknikal, IHSG saat ini telah berada pada area oversold. Terlihat penutupan kemarin berada dibawah lower band dari Bollinger band, selain itu RSI dan Stochastic juga sudah memasuki oversold. Meski demikian, belum terlihat adanya tanda atau sinyal reversal. Kami perkirakan hari ini pergerakan pasar masih akan tergantung dari harga komoditas. Kisaran support-resistance 2.030-2.104.

Optima Securities


Indeks melemah tajam 3.5% keposisi 2.057 masih dipicu saham perkebunan dan pertambangan di tengah bursa regional yang juga melemah. Melemahnya harga minyak menjadi katalis penurunan indeks karena ekspektasi harga komoditas bakal turun sehingga memicu panic selling dua sektor tersebut. Historikal indeks mencoba menembus level 2.000 dengan level 1.863 sebagai bottom linenya. Di tengah tekanan hebat, indeks berpeluang mengalami tehnikal rebound dengan arah pergerakan 2.000-2.080 dan pilihan saham: SMCB, SMGR, APEX, PGAS, dan PTBA.

eTrading Securities


Bursa Indonesia pada perdagangan kemarin kembali mengalami 'hari berdarah' dimana indeks turun ke level terendah sejak 1 tahun terakhir, akibat terus melemahnya harga-harga komoditas dunia seiring turunnya harga minyak dunia. Indeks ditutup melemah 3,57% ke level 2057,57.

Sementara bursa US tampaknya tidak akan membantu banyak bagi sentimen ke bursa Indonesia, pasalnya semalam bursa US ditutup melemah akibat terguncangnya sektor finansial US terkait write down sebesar US$1,5 miliar yang dilakukan oleh JP Morgan pada kuartal ke 3 ini dan US$5,1 miliar yang dilakukan oleh UBS AG. Kembali turunnya harga minyak dunia ke level US$ 113 tidak terlalu memberi sentimen positif bagi bursa US. Sementara bursa-bursa asia di pembukaan perdagangan hari ini turut mengalami pelemahan.

Buruknya sentimen dari bursa US dan regional nampaknya akan menahan potensi teknikal rebound pada bursa Indonesia. Selain itu, harga komoditas dunia juga belum menunjukkan tanda-tanda reversal. Namun kami yakin, indeks akan mengalami teknikal rebound hari ini, karena penurunan indeks kemarin turut disertai oleh overreacting dari para pelaku pasar. Diharapkan hari ini investor lebih rasional dan kembali mengkoleksi saham-saham berfundamental kuat yang telah terkoreksi cukup dalam. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 2030 - 2085. (ir/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads