"Kapasitas pabrik tersebut rencananya adalah 30 ribu ton per tahun. Sementara untuk dananya, kami sudah membicarakannya dengan pemegang saham. Namun sekali lagi harus menunggu izin pemerintah," ujar Direktur Utama INCO, Arif Siregar usai RUPSLB di hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (13/8/2008).
Menurut Arif, dana senilai US$1,1 miliar - US$1,2 miliar merupakan estimasi (whole pack number) investasi pabrik. Namun, angka tersebut bisa saja lebih besar, ataupun kurang beberapa persen dari estimasi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seandainya sudah mendapat lampu hijau dari pemerintah, proses analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dapat segera dilaksanakan, baru kemudian pembangunan pabrik dimulai.
"Pabrik tersebut diharapkan selesai di 2013-2014, jika izin tahun ini diperoleh, AMDAL memakan waktu 1-2 tahun, dan pembangunan pabrik 36 bulan," jelas Arif.
Selain sedang memfokuskan pembangunan pabrik di Pomalaa, INCO akan melanjutkan dengan pembangunan konsesi miliknya di Sulawesi Tengah tepatnya di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Nantinya, hasil penambangan dari Bahodopi akan diproduksi di pabrik nikel di Sorowako. Menurut Arif, cadangan nikel di Bahodopi belum selesai di survei, tapi cadangan nikel INCO diperkirakan hingga 38 tahun.
"Untuk itu kami akan membangun jalan Bahodopi - Sorowako sepanjang 80 kilometer secara bertahap. Tahun ini anggarannya masuk ke capex perseroan," ujarnya.
Tahun ini, belanja modal (capital expenditure/capex)Β INCO dianggarkan sebesar US$ 212 juta. Seluruh dananya dari kas internal. Hingga akhir semester I capex yang telah terserap mencapai US$ 90 juta.
"Capex tersebut digunakan untuk peremajaan alat-alat modal (sustainable capital), environtmental safety and health, pembangunan pembangkit listrik di Karebe yang sedang berjalan," urai Arif.
PLTA Karebe yang berkapasitas 90 MW konstruksinya sudah mencapai 15% dan diharapkan selesai 2011. PLTA Karebe akan memenuhi kebutuhan energi INCO yang saat ini dipasok oleh PLTA Balambano 165 MW, dan PLTA Larona 110 MW.
"Kebutuhan energi listrik saat ini defisit 20 MW yang disuplai oleh diesel. Hal ini yang membuat cost kami membengkak di sepanjang semesterΒ I 2008," jelas Arif. (dro/ir)











































