Jangan Buru-buru Tinggalkan Saham Komoditas

Jangan Buru-buru Tinggalkan Saham Komoditas

- detikFinance
Rabu, 13 Agu 2008 15:31 WIB
Jangan Buru-buru Tinggalkan Saham Komoditas
Jakarta - Penurunan harga produk komoditas telah membuat harga saham-saham komoditas ikut anjlok. Tapi jangan buru-buru tinggalkan saham komoditas karena pelemahannya disinyalir hanya bersifat sementara dan diperkirakan akan kembali naik.

"Kenaikan harga komoditas sebelum terjadinya penurunan harga belakangan ini, telah membuat banyak orang memiliki uang berlebih. Bubble uang ini akan mencari tempat penyaluran. Perkiraan kami uang-uang ini akan masuk ke pasar ekuitas," papar Kepala Ekonom Deutsche Bank Group, Norbert Walter.

Hal itu disampaikan Walter dalam paparan ekonomi di hotel Intercontinnental, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (13/8/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terjadinya penumpukan modal sebagai dampak kenaikan harga-harga komoditas seperti minyak, batubara, kelapa sawit dan sebagainya dipastikan akan mendorong terjadinya penempatan-penempatan modal dalam jumlah besar.

"Selama ini ada dua sektor yang biasanya jadi incaran investor yaitu real estat dan bond (obligasi). Namun saat ini dua sektor itu tidak lagi menarik," jelas Walter.

Menurut Walter ada berbagai alasan yang menyebabkan dua sektor itu tidak lagi menarik. Pertama, sektor real estat menurun pamornya sejak terjadi krisis subprime mortgage. Kedua, obligasi menjadi tidak menarik karena dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini, risiko sangat tinggi sementara tingkat suku bunga rendah.

"Oleh sebab itu mereka akan mencari penempatan dana di sektor ekuitas, terutama di saham-saham komoditas. Alasannya karena komoditas secara fundamental masih menjadi salah satu penopang utama industri dunia saat ini. Meski belakangan ini sempat terjadi penurunan, namun investor akan kembali masuk ke saham di sektor ini," papar Walter.

Walter juga memperkirakan penurunan harga komoditas tidak akan terjadi secepat penurunan harga minyak mentah dunia. Menurutnya, kenaikan harga minyak belakangan ini terjadi karena didorong oleh permintaan semu, sehingga ketika telah mencapai puncaknya akan mengalami penurunan dengan cepat, meski ia tetap meyakini harga minyak tidak akan turun hingga menyentuh US$ 100 per barel.

"Sedangkan kenaikan harga komoditas tidak disebabkan oleh permintaan semu, melainkan kurangnya pasokan akibat tingginya permintaan riil. Sehingga ketika terjadi penurunan permintaan, harga komoditas menurun secara perlahan," jelas Walter. (dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads