"Sepertinya asumsi pemerintah rupiah di level 9.100 cukup realistis. Sebab, selama pemerintahan SBY-JK, rupiah memang tidak pernah menyentuh level di bawah 9.000," ujar Pengamat Ekonomi, Farial Anwar saat dihubungi detikFinance, Sabtu (16/8/2008).
Menurut Farial, sepanjang tahun 2009, rupiah akan tetap berada di level lebih dari 9.000 terhadap dolar AS. Apalagi kondisi ekonomi global sedang tidak menentu dan tidak bisa diperkirakan arah gejolaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Farial mengatakan, penurunan harga-harga komoditas belakangan ini terutama disebabkan adanya peralihan permainan para spekulan yang tadinya bermain di komoditas seperti minyak dan sebagainya, kemudian beralih ke dolar AS.
"Itulah sebabnya mengapa dolar AS mengalami penguatan terhadap seluruh mata uang dunia akhir-akhir ini. Padahal belum lama kita mendengar isu tentang resesi ekonomi AS. Hal ini menunjukkan spekulan-spekulan itu melihat dolar AS lebih menarik daripada komoditas, meskipun ekonomi AS sedang guncang," papar Farial.
Faktor dalam negeri yang diperkirakan ikut berpengaruh pada nilai tukar rupiah adalah pemilu 2009. Menurut Farial posisi nilai tukar rupiah akan menjadi tidak menentu, sebagaimana selalu terjadi setiap pemilu.
"Sebagaimana kita ketahui, setiap pemilu itu selalu beredar uang politik baik itu uang palsu maupun uang partai. Ini akan berpengaruh pada nilai tukar rupiah," jelas Farial.
Farial menambahkan, dalam pemilu juga biasanya akan masuk uang-uang dari luar negeri untuk masuk dalam partai-partai.
"Tentu ini bisa membuat rupiah menguat. Namun karena kondisi global sedang tidak menentu, sepertinya akan terjadi tarik menarik nilai tukar rupiah akibat kondisi global sebagai faktor luar dan pemilu sebagai faktor dalam negeri," urai Farial.
Atas alasan tersebut, Farial menilai asumsi pemerintah cukup realistis. Rentang pergerakan rupiah diperkirakan akan berada di kisaran 9.100-9.400 per dolar AS.
"Dalam kondisi seperti ini, saya tidak melihat ada kemungkinan rupiah menguat ke level 9.000. Jadi sepertinya asumsi pemerintah cukup realistis," ujar Farial. (dro/ir)











































