"Seandainya pendanaan tidak diperoleh dan proyek tidak jalan kami berencana melepas seluruh kepemilikan saham kami di Jakarta Monorail," ungkap Corporate Secretary ADHI, Kurnadi Gularso disela acara di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Kamis (21/8/2008).
Terhambatnya pengerjaan proyek senilai US$ 480 juta tersebut disebabkan pemerintah provinsi DKI Jakarta saat ini lebih memilih memfokuskan pengerjaan proyek kereta api bawah tanah (Subway) ketimbang proyek Jakarta Monorail.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara pendanaan pun proyek ini masih terhambat. Komposisi pendanaan proyek senilai US$ 480 juta tersebut terdiri dari ekuitas bersama US$ 144 juta ekuitas bersama, sisanya pinjaman bank.
"Dari yang US$ 144 juta saja masih belum dapat dihimpun," jelas Kurnadi.
Oleh karena itu ADHI berharap ada pihak-pihak yang mau mengambil alih proyek tersebut.
Saat ini ADHI memiliki saham di proyek monorail sekitar 30,1% baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung ADHI memiliki 7,65% di PT Jakarta Monorail. Sementara secara tidak langsung ADHI memiliki 24,67% saham di PT Indonesia Transit Central (ITC) yang menguasai 91,02% saham PT Jakarta Monorail, atau sekitar 22,45%.
"Nilai saham yang 7,65% sekitar US$ 1,573 juta, sedangkan yang 22,45% sekitar Rp 3,4 miliar," ungkap Kurnadi.
Dengan asumsi tersebut, total nilai kepemilikan 30,1% saham ADHI di Jakarta Monorail sekitar US$ 1,942 juta.
"Jika memang nantinya dijual, nilainya bisa berubah, tergantung nanti," jelas Kurnadi.
Meski demikian, Kurnadi mengatakan perseroan tetap berharap penggarapan proyek monorail tetap berjalan.
"Memang pelepasan saham sedang kami kaji. Namun sebenarnya jika pemerintah daerah dan pemerintah provinsi tetap berencana meneruskan proyek ini, kami akan berpartisipas," ujar Kurnadi.
(dro/qom)











































