Benarkah saham-saham tersebut digadaikan untuk memperoleh pinjaman guna membiayai kembali utang-hutang perseroan dan anak-anak usahanya?
Pada RUPS Luar Biasa BNBR yang telah diadakan pada 17 Maret 2008, pemegang saham menyetujui rencana rights issue Rp 40,118 triliun, penerbitan waran BNBR senilai Rp 2,9 triliun dan pinjaman dari Barclays Capital sebesar Rp 8,3 triliun. Total dana yang akan diperoleh melalui seluruh aksi tersebut mencapai Rp 51,3 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 11 Juli 2008, BNBR telah memberi laporan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai realisasi penggunaan dana hasil rights issue sebesar Rp 40,118 triliun hingga 30 Juni 2008.
Rincian penggunaan dana tersebut adalah akuisisi BUMI Rp 32,1 triliun, ENRG Rp 1,249 triliun, ELTY Rp 3,695 triliun, pelunasan utang ke Odickson Finance untuk penyertaan PUT II PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) Rp 926,63 miliar dan pelunasan utang ke Odickson Finance untuk penyertaan PUT I PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) Rp 1,606 triliun.
Total dana yang telah direalisasikan setelah dikurangi biaya-biaya penawaran umum sebesar Rp 39,784 triliun. Sisa dana rights issue sebesar Rp 333,869 miliar disimpan di rekening BNBR di bank Mega.
Terlepas dari adanya perbedaan angka antara agenda yang disetujui dalam RUPSLB 17 Maret 2008 dengan realisasi penggunaan dana rights issue yang disampaikan ke BEI per 30 Juni 2008 tersebut, artinya BNBR dengan kata lain menyatakan telah meningkatkan penyertaan saham di 3 anak usahanya BUMI, ENRG dan ELTY.
Jika sesuai agenda RUPSLB 17 Maret 2008, seharusnya setelah realisasi penggunaan dana rights issue, kepemilikan BNBR di BUMI, ENRG dan ELTY masing-masing akan sebesar 35%, 40% dan 40%.
Namun anehnya, berdasarkan data BEI per 30 Juni 2008, kepemilikan BNBR di BUMI hanya sebesar 15,73%, kemudian BNBR di ENRG hanya sebesar 6,64% dan BNBR di ELTY hanya sebesar 19%.
Bahkan per 8 Agustus 2008, kepemilikan BNBR di BUMI tersisa 6,75%, artinya terjadi perubahan sebesar 28,25% dari yang disetujui dalam RUPSLB.
Mengenai hal ini, Direktur Keuangan BNBR Yuanita Rohali ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa 28,25% saham tersebut digadaikan ke ICICI, JP Morgan dan Odickson Finance untuk memperoleh pinjaman sebesar US$ 1,4 miliar.
Lalu bagaimanakah dengan kepemilikan BNBR di ENRG dan ELTY?
Jika mengacu pada data BEI per 30 Juni 2008, saham BNBR di ENRG hanya sebesar 6,64%, artinya terjadi perubahan sebesar 33,36% dari yang seharusnya sebesar 40% sesuai agenda RUPSLB.
Begitu juga dengan kepemilikan BNBR di ELTY, hanya sebesar 19% pada 30 Juni 2008. Jika mengacu pada agenda RUPSLB seharusnya BNBR menguasai 40% saham ELTY. Artinya telah terjadi perubahan 21%.
Kemanakah perginya saham BNBR di 3 anak usahanya itu? Benarkah saham-saham yang 'menghilang' tersebut digadaikan?
Pada 25 Juli 2008, Direktur BNBR, Ari Saptari Hudaya mengatakan bahwa untuk memperoleh pinjaman dari beberapa bank asing, perseroan telah menggadaikan kepemilikan saham di 5 anak usahanya BUMI, ENRG, ELTY, UNSP dan BTEL.
Sayangnya, hingga saat ini perseroan belum mau membuka diri mengenai penggadaian saham 5 anak usahanya, total dana yang diperoleh maupun tujuan penggunaan dana tersebut. (dro/qom)











































