Pama Bisa Kehilangan Produksi 1,5 Juta ton di Lahan KPC

Pama Bisa Kehilangan Produksi 1,5 Juta ton di Lahan KPC

- detikFinance
Jumat, 22 Agu 2008 18:11 WIB
Pama Bisa Kehilangan Produksi 1,5 Juta ton di Lahan KPC
Jakarta - PT Pama Persada Nusantara, anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR), salah satu kontraktor batubara yang disewa PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berpotensi kehilangan produksi 1,5 juta ton hingga akhir tahun akibat kasus sengketa lahan.

"Berdasarkan perhitungan terbaru kami, batubara yang berhenti diangkut Pama di lahan KPC yang bersengketa mencapai 10 ribu ton per hari atau sekitar 300 ribu ton per bulan," ungkap Investor Relations UNTR, Ari Setiayawan saat dihubungi detikFinance, Jumat (22/8/2008).

Dengan asumsi tersebut, Ari mengatakan seandainya kasus ini berlangsung hingga akhir tahun 2008, maka potensi batubara KPC yang berhenti diangkut Pama mencapai 1,5 juta ton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski Ari enggan menyebutkan harga kontrak angkut per ton antara Pama dengan KPC, namun dengan kehilangan produksi sebesar itu bisa mempengaruhi perolehan pendapatan Pama tahun ini.

"Tahun ini target kami 58 juta ton. Kontrak dengan KPC tahun ini sekitar 6,5 juta ton. Artinya jika 1,5 juta ton terhenti, cukup berpengaruh pada target kontrak Pama dengan KPC," jelas Ari.

Perhitungan terbaru yang diungkap Ari cukup mengejutkan. Sebab, dua hari yang lalu, ia mengungkapkan potensi kehilangan Pama akibat kasus KPC sebesar 90 ribu per bulan. Namun berdasarkan perhitungan terbaru ternyata kegiatan Pama yang terhenti mencapai 300 ribu ton per bulan.

Meski demikian, Ari mengatakan Pama belum akan merevisi targetnya. Saat ini Pama sedang melakukan pembicaraan dengan pihak KPC agar areal tempat Pama beroperasi bisa dipindahkan ke lokasi KPC yang lain.

"Lokasi Pama di lahan KPC ada di pit Pelikan dan pit Kangguru. Dua-duanya termasuk yang dihentikan oleh Pemkab Kutai Timur. Bahkan pit Pelikan berhenti sama sekali. Kami berharap KPC dapat memindahkan lokasi operasi Pama ke pit yang masih beroperasi," jelas Ari.
(dro/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads