"Kami belum bisa memastikan angkanya, karena proses masih berlangsung dan masih dihitung," ujar Direktur Keuangan BUMI, Andrew Beckham, di Wisma Bakrie 2, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Jumat (22/8/2008).
Namun dalam data yang dipublikasikan ke analis, BUMI telah membuat perhitungan skenario terburuk kehilangan produksi akibat kasus sengketa lahan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski Andrew enggan memberikan angka pastinya, namun dengan asumsi 6 pit tersebut dihentikan hingga akhir tahun, maka potensi kehilangan produksi batubara BUMI mencapai 8,25 juta ton selama 5 bulan terhitung Agustus 2008.
"Bengalon Coal Hauling telah dioperasikan kembali sejak 21 Agustus 2008," jelas Andrew.
Sebelumnya, pemerintah kabupaten Kutai Timur menghentikan jalur Hauling tersebut. Namun setelah negosiasi dilakukan dengan bantuan tim pemerintah pusat, jalur tersebut akhirnya dioperasikan kembali. Namun 6 pit yang sedang diperiksa oleh Polda Kalimantan Timur, hingga saat ini masih berhenti produksi.
Sehubungan dengan itu, BUMI tahun ini menargetkan produksi sebanyak 60 juta ton. Meski 6 pit perseroan dihentikan, BUMI menyatakan belum akan merevisi target tersebut.
"Lahan kami seluruhnya seluas 170 ribu hektar. Penghentian 7 ribu hektar tidak akan terlalu berpengaruh pada kinerja BUMI. Kami bisa meningkatkan produksi dari lokasi pit lainnya," jelas Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava.
(dro/ddn)











































