"Total obligasi yang akan kami buyback sekitar US$ 550 juta," ujar Direktur Utama ISAT, Jhonny Swandi Sjam usai RUPSLB di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (25/8/2008).
Pembelian kembali obligasi tersebut terkait adanya perubahan pemegang saham pengendali ISAT dari sebelumnya dipegang oleh STT menjadi Qatar Telecom (Qtel). Sebagaimana diketahui sebelumnya, Qtel telah mengambil alih 100% saham ICL, anak usaha STT yang menguasai 40,81% saham ISAT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun jumlah persis obligasi yang akan dibeli kembali masih menunggu hasil masukan dari para pemegang obligasi ISAT.
"Due date-nya berakhir 16 September 2008. Saat itu baru dapat kami ketahui berapa yang akan kami beli kembali," ujar Jhonny.
Oleh karena angka pastinya belum diperoleh, perseroan belum dapat memberikan kepastian mengenai dana yang dipersiapkan perseroan dalam rencana tersebut.
"Intinya kami siap membeli seluruh obligasi tersebut jika pemegang obligasi memang seluruhnya akan menjual," ujar Jhonny.
Mengenai pendanaan, Jhonny mengatakan akan menggunakan kombinasi kas internal dan pinjaman bank. Sayangnya ia tidak menyebutkan komposisi persisnya.
"Pastinya kombinasi kas internal dan pinjaman bank. Kami kan baru saja memperoleh pinjaman sebesar US$ 400 juta beberapa waktu lalu," ujarnya.
Berdasarkan catatan detikFinance, dari pinjaman sebesar US$ 400 juta tersebut, sebesar US$ 220 juta sudah masuk dalam agenda pendanaan belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan tahun ini. Sehingga sisanya hanya sebesar US$ 180 juta yang dapat digunakan ISAT untuk rencana buyback obligasi.
Sementara sisanya masih harus dicari perseroan. Menanggapi hal ini, Jhonny mengatakan hal tersebut bukan masalah.
"Bisa dicari kok," ujarnya singkat.
Capex perseroan tahun ini sebesar US$ 1,2 miliar. Pendanaannya US$ 800 juta kas internal dan US$ 400 juta pendanaan eksternal.
Pada semester I lalu, ISAT telah menerbitkan obligasi konvensional dan sukuk senilai Rp 1,65 triliun atau setara dengan US$ 180 juta. Sehingga pendanaan eksternal yang dibutuhkan ISAT masih sebesar US$ 220 juta.
Oleh karena itu kemudian ISAT menunjuk ING Bank NV dan DBS Bank sebagai arranger dan penjamin emisi pencarian pinjaman.
Melalui dua lembaga keuangan tersebut, ISAT memperoleh fasilitas pinjaman sebesar US$ 200 juta dengan opsi green shoe yang memungkinkan fasilitas ditingkatkan sebesar US$ 100 juta. (dro/ir)










































