Namun para investor tampaknya sedang dilanda kelesuan, layaknya di Indonesia. Perdagangan saham sangat tipis dan penuh gejolak.
Kenaikan harga saham-saham sektor energi melonjak setelah harga minyak mentah dunia kembali naik. Kontrak utama minyak jenis light kemarin tercatat naik 1,16 dolar ke level US$ 116,27 per barel. Minyak jenis Brent naik 60 sen ke level US$ 114,63 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkat kenaikan harga minyak itu, harga saham-saham energi di AS langsung menanjak. Saham ExxonMobil naik 1,6% ke level US$ 79,95 per barel, sekaligus menjadi penyumbang terbesar bagi kenaikan indeks Dow Jones dan S&P.
"Cerita hari ini adalah energi dengan kenaikan harga saham energi akibat berita badai Gustav," jelas Marc Pado, analis dari Cantor Fitzgerald & Co seperti dikutip dari Reuters, Rabu (27/8/2008).
Namun kenaikan harga saham-saham energi itu tertahan oleh kemerosotan saham-saham sektor finansial yang masih saja terpuruk. Saham-saham finansial masih tertekan setelah Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) mengatakan bahwa 117 bank masuk dalam daftar bank yang bermasalah hingga akhir kuartal II. Jumlah itu naik dibandingkan hanya 90 bank yang bermasalah pada kuartal I.
"Kami telah melihat beberapa kegagalan, namun daftar ini mengambil perhatian lebih besar lagi," jelas Peter Kenny, managing director Knight Equity Markets.
FDIC mengatakan, aset bank-bank yang masuk dalam daftar bermasalahnya secara total mencapai US$ 78,3 miliar per Juni. Angka ini berarti naik US$ 26,3 miliar dibandingkan kuartal I.
Indeks Dow Jones tercatat hanya naik tipis 26,62 poin (0,23%) ke level 11.412,87, Nasdaq naik tipis 3,62 poin (0,15%) ke level 2.361,97 dan S&P naik 4,66 poin (0,37%) ke level 1.271,50. (qom/qom)











































