"Kami telah memiliki 10% saham di Hanson Energy. Ke depan kepemilikan kami akan terus ditingkatkan," ungkap Presiden Direktur MYRX, Moch. Fathony dalam siaran pers, Rabu (27/8/2008).
Sayangnya ia tidak menyebutkan berapa besar penambahan saham tersebut akan dilakukan perseroan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam masa transisi MYRX akan melakukan kegiatan usaha perdagangan dan pertambangan batubara, serta meningkatkan kemampuan di bidang operasional perdagangan batubara.
"Usaha di bidang pertambangan dan energi memiliki prospek yang sangat baik, jika dibanding bidang tekstil yang terus terpuruk. Oleh sebab itu kami akan fokus di bidang pertambangan dan energi saja. Mudah-mudahan, perusahaan bisa memberikan hasil yang lebih optimal kepada pemegang saham," ujar Fathony.
Hanson Energy telah memperoleh tender pengadaan batubara LRC (Low Rank Coal) berkualitas rendah dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), untuk memasok 6 (enam) PLTU senilai Rp 28 triliun. Saat ini Hanson Energy memiliki lahan tambang di 10.000 hektar lebih dengan cadangan 150 juta ton.
Saat ini Hanson sedang melakukan kegiatan eksplorasi secara detail dan terintegrasi yang biasa disebut dengan JORC (Joint Ore Resources Committee) Resources and Reserves Project.
Sementara itu, perseroan membantah adanya keterkaitan kepemilikan saham Benny Tjokrosaputro di MYRX.
"Saat ini perseroan tidak lagi dimiliki oleh Benny Tjokrosaputro," tegas Fathony.
Menurut Fathony memang ada hubungan saudara antara Benny Tjokro dengan Dicky Tjokrosaputro. Namun secara bisnis telah dilakukan pemisahan usaha dan sudah tidak terkait antara keduanya dalam bisnis. (dro/ir)











































