d'Mentor

Waspada THR Habis, Gaji Habis

detikTV, detikTV - detikFinance
Rabu, 12 Mei 2021 12:46 WIB
Jakarta -

Perencana keuangan senior Aidil Akbar Madjid berbagi tips bagaimana mengelola keuangan saat Hari Idul Fitri atau momen lebaran. Menurutnya, perencanaan keuangan yang matang dibutuhkan agar alokasi dana tidak bergeser dari anggaran yang memang diperuntukan untuk lebaran, seperti tunjangan hari taya (THR). Pasalnya, pengeluaran saat lebaran sering kali menjadi lebih besar dibanding pengeluaran bulanan lainnya.

"THR ini salah satu keuangan yang memang mesti kita kelola, apalagi munculnya THR dan hari raya ini berdekatan dengan gajian kan, jadi jangan sampai kemudian THR-nya ga bisa dikelola ya, ga mengerti bagaimana cara menggunakan THR yang baik kemudian terpakai gaji-nya. Yang terjadi malah waktu akhir bulan masih jauh," Ujar Aidil dalam program d'Mentor: 'Waspada THR Habis, Gaji Habis' yang disiarkan detikcom hari Selasa (11/5/2021).

Menurut Aidil, THR memang diperuntukan untuk pengeluaran di bulan Ramadan dan hari raya. Secara historis, THR pertama kali diberikan oleh pemerintah padaa masa orde lama kepada aparatur sipil negara atau ASN karena biaya hidup yang selalu meningkat saat bulan Ramadan.

"Kemudian menjadi salah kaprah gitu kan, kasih uangnya, tapi ga tau cara menggunakannya. Saya ketemu banyak temen yang saya tahu itu THR belum turun tapi sudah tau mau membeli apa," ujar Aidil.

Menurutnya, penggunaan THR memang diperuntukan untuk kebutuhan bulanan yang biasanya berhubungan dengan bahan makanan. Kemudian, penggunaan THR bagi kaum Muslim juga dapat digunakan untuk membayar zakat fitrah hingga zakat mal.

Selain itu, THR yang didapat seorang karyawan juga dapat digunakan untuk kembali memberikan THR kepada pihak lain seperti asisten rumah tangga, petugas keamanan hingga petugas kebersihan. Saat hari raya, THR dapat digunakan untuk membeli kue-kue kering dan makanan khas lebaran.

Sementara pengeluaran yang tidak wajib dari THR adalah seperti kebiasaan membeli baju baru . Menurutnya, hal itu dinilai tidak perlu dilakukan terutama dalam kondisi pandemi COVID-19 di mana masyarakat didorong untuk bersilaturahmi cukup secara online.

"Baju baru sebenarnya simbol atas orang setelah puasa, Lebaran itu suci kembali fitrah ditunjukkan dengan simbol baju baru. Padahal bukan, harusnya simbolnya baju bersih, bukan baju baru," tambahnya.

Fenomena pemberian hampers juga tidak disarankan bagi yang menerima THR pas-pasan. Apalagi jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang mengharuskan memiliki banyak relasi.

"Hampers itu sekarang jadi ajang bangga-banggaan. Di satu sisi oke kalau memang kita seorang pengusaha atau banyak relasi itu mungkin masih oke dalam hal memberikan hampers. Tapi ketika kita hanya pekerja biasa, bukan bagian marketing atau client service yang meghandle client, tidak punya relasi yang cukup banyak, tidak ada kewajiban kita memberikan hampers," ujar Aidil.

Lain halnya jika memberikan hampers untuk keluarga atau teman terdekat. "Alangkah baiknya hampers diberikan kepada fakir miskin karena amal jariyahnya juga dapat," tuturnya.

Selain itu, Aidil menambahkan kebiasaan seperti mengecat rumah di berbagai daerah juga tidak disarankan menggunakan anggaran THR. Terlebih, kebiasaan mengecat rumah membutuhkan biaya yang besar,

"Jadi jangan sampai uang kita habis untuk ngecat rumah yang bisa habis Rp 1-2 juta. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang di mana kita belum tahu nih selesainya (COVID-19) kapan. Jangan terlalu menghambur-hamburkan uang karena kondisi perusahaan juga belum stabil, jadi sebisa mungkin ditahan dulu," sarannya.

(hnf/hnf)