Jokowi mengusulkan konsep transportasi laut untuk memangkas biaya logistik. 'Tol' laut ini merupakan sistem pelayaran menggunakan kapal besar yang setiap hari berkeliling di pelabuhan-pelabuhan laut dalam atau deep sea port.
Konsep 'tol' laut ini ternyata berhasil menekan biaya logisitik di negara kepulauan seperti Filipina dan Jepang. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan Harry Boediarto kepada detikFinance, Jumat (23/5/2014).
"Negara kepulauan itu ada Jepang, Filipina, dan kita. Jepang berhasil tekan disparitas harga dengan konektivitas di darat dan laut. Kalau Filipina lebih baik dari kita. Disparitas nggak besar. Kita bisa belajar dari Jepang. Konektivitas antar pulau dan di darat bagus," kata Harry.
Berbeda dengan kedua negara tersebut, pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia lebih ditekankan di sektor darat. Padahal biaya transportasi angkutan logistik paling murah ada di laut. Alhasil terjadi disparitas harga antar wilayah.
Selama ini, biaya logistik juga dipengaruhi oleh tidak sebandingnya perkembangan industri antara Indonesia bagian timur dan barat. Seperti saat pengiriman barang dengan kapal besar dari pulau Jawa yang dikirim ke Papua. Saat dikirim dalam kondisi muatan penuh sedangkan saat kembali, barang atau kargo yang dibawa tidak banyak.
"Jadi di Papua itu harus ada kegiatan. Sekarang dari Jawa bawa barang terus tiba di Papua, saat di Papua kosong atau nunggu lama agar ada barang. Beda dengan ke Eropa. Berangkat dan pulang penuh membawa barang. Makanya pemerataan ekonomi mutlak," jelas Harry.
Harry menjelaskan konsep Pendulum Nusantara telah masuk rencana kerja Kementerian Perhubungan. Ia menyebut konsep 'tol' laut sebetulnya telah dilakukan oleh perusahaan pelayaran nasional tetapi operator kurang menyadari.
"Sekarang terkoneksi, cuma belum sadar dan belum dipetakan. Tahun depan dipetakan, daerah mana yang jalurnya kosong dan mana yang padat. Jalur yang kosong bisa dibantu pemerintah," terangnya.
Harry pun menyambut baik rencana para capres yang mulai memasukkan program pembangunan sektor kelautan. Menurutnya, angkutan logisitik laut bisa menjadi konektivitas unggulan yang menghubungkan antar pulau dan dunia internasional.
"Short sea shipping itu paling efisien. Daya angkut besar, emisi karbon rendah, konsumsi BBM subsidi rendah," tuturnya.
Untuk mendukung program 'tol' laut, demikian Harry, harus ada sinergi antara pembangunan pelabuhan dan penyediaan kapal. Industri pelayaran juga perlu memperoleh dukungan pembiayaan sehingga bisa tumbuh.










































