Misalnya, pembangkit dan jaringan listrik, semen, perbankan, tambang, internet, sampai jaringan telepon seluler. Bahkan saat ini, Pertamina sudah memiliki beberapa SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) yang dikerjasamakan dengan partner lokal Myanmar.
"Negara itu baru bangun BUMN-nya karena banyak yang rugi, sehingga mereka menawarkan kerja sama dengan BUMN kita seperti telekomunikasi kemudian listrik. Karena listrik di sana kan elektrifikasi baru 37%, jadi minta bantuan ke Indonesia," kata Rini di Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (7/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, lanjut dia, Myanmar juga membuka peluang BUMN berinvestasi di sektor telekomunikasi dan internet.
"Telekomunikasi dan internet kita ditawari jadi operator di sana. Termasuk internasional gateway untuk masuk jadi mobile phone. Kemudian industri semen. PLN juga berencana masuk, karena banyak power plant mereka sudah tua-tua," ucap Rini.
Mantan Presiden Direktur Astra Internasional ini berujar, kondisi keamanan di Myanmar juga saat ini dinilai sudah kondusif, sehingga mulai banyak investasi asing yang masuk.
"Sudah aman terjamin kelihatannya. Saya tanya Dubes juga 3 tahun sudah terjamin keamanannya, semua berjalan dengan lancar, karena memang pemerintahan baru Myanmar cepat sekali pertumbuhan ekonominya. Banyak investasi yang masuk," kata Rini. (hns/hns)











































