Minta Naik Gaji Saat Resesi, Bisa?

ADVERTISEMENT

Minta Naik Gaji Saat Resesi, Bisa?

edward. F. Kusuma - detikFinance
Senin, 17 Okt 2022 08:51 WIB
Jakarta -

Ancaman resesi menjadikan investor hingga pelaku usaha, untuk menghemat pos pengeluaran. Namun, hal itu bukan halangan bagi para pekerja yang mengharapkan kenaikan gaji di masa resesi. Iestri Kusumah, praktisi HR serta mentor karier menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pegawai sebelum mengajukan peningkatan gaji.

"Kalau sudah yang bekerja berarti ya, kalau (minta) naik gaji kita lihat dulu perusahaannya lagi naik atau turun. Kalau kita lihat lagi turun ya jangan, karena jadinya kita nggak tahu diri, enggak punya rasa belas kasihan ke perusahaan. Tetapi kalau perusahaan lagi oke, lagi stabil boleh kita omongin ke atasan. Lalu, kita tanya juga kalau dari kenaikan mungkin hasilnya dapat bonus atau enggak," ujar Iestri dalam acara d'Mentor detikcom, Kamis (13/10/2022).

Ia pun menambahkan, ada atau tidak adanya bonus bisa menjadi tambahan pertimbangan. Selain itu, kondisi resesi bisa menjadi salah satu senjata yang digunakan oleh pekerja untuk meminta kenaikan gaji.

"Coba tanya bonus dulu, baru setelah itu baru tanya misal kita sudah berpengalaman beberapa tahun. Apakah bisa disesuaikan gajinya karena mungkin dari segi kebutuhan naik juga, ini ngaruh juga ke resesi kalau kebutuhan semakin meningkat kita bisa coba obrolin. Jadi dari kebutuhan realistis kita apakah bisa disesuaikan perusahaan atau tidak, karena kalau perusahaan yang baik dia bisa menyesuaikan kebutuhan karyawan. Jadi lebih terhubung, dia ngerasa bagian keluarga, lebih loyal," ujarnya

Lebih lanjut, Iestri mengatakan bahwa sebuah perusahaan tidak akan menutup mata dengan keberadaan para pekerja yang loyal dan berprestasi. Oleh sebab itu, loyalitas pegawai menjadi faktor penting yang akan dipertimbangkan perusahaan. Iestri menuturkan, ada hubungan yang kuat antara loyalitas dengan kebutuhan domestik karyawan. Menurutnya, jika kebutuhan personal karyawan tidak diperhatikan perusahaan, loyalitas karyawan pun akan berkurang.

"Perusahaan harus tetap memperhatikan kebutuhan personal dari karyawan," paparnya.

Terkait permintaan kenaikan gaji di masa resesi, Iestri mengungkapkan bahwa hal itu termasuk bagian dari tantangan sebuah perusahaan. ada beberapa hal yang mungkin dipertimbangkan untuk menjaga stabilitas baik dari faktor eksternal maupun internal. Hal ini termasuk mengabulkan permintaan karyawan tetapi juga dengan berbagai pertimbangan maupun konsekuensi yang harus dijalani.

"Itu wajar ya, walaupun di masa resesi. Jadi makanya kenapa sekarang PHK banyak, tapi rekrutmen juga banyak. Jadi sebetulnya di PHK banyak untuk kurangi karyawan yang kurang perform, jadi biar lebih efisien biar anggaran perusahaan masuk ke karyawan-karyawan bagus. Tetapi di samping itu, ketika kurang karyawan makanya buka rekrutmen lagi dan itu sama anggarannya dengan yang mau naik gaji. Kalau karyawan perform bagus, enggak ada masalah (dinaikkan), jadi supaya karyawan loyal," ujarnya.

Iestri mengatakan, lepasnya para pegawai yang berkualitas serta berpengalaman justru akan berdampak buruk bagi produktifitas perusahaan.

"Karena sayang banget kalau karyawan bagus dan enggak engaged tiba-tiba resign itu rugikan perusahaan juga, karena enggak gampang cari karyawan bagus dan udah ngerti kondisi perusahaan ," tutupnya

(edo/vys)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT