PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menanggung beban proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh yang dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).
Berdasarkan laporan keuangan KAI, Pilar Sinergi BUMN Indonesia masih mencatatkan rugi hingga Rp 5,13 triliun. Total liabilitas Pilar Sinergi BUMN Indonesia juga tercatat lebih tinggi daripada total asetnya, yakni Rp 21,54 triliun dan Rp 21,52 triliun.
Terkait hal tersebut, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyebut tengah berupaya menyelesaikan persoalan keuangan di banyak Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Di sisi lain, Danantara juga memiliki tenaga yang terbatas untuk menyelesaikan sejumlah persoalan keuangan BUMN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami yang baru ini kan sebetulnya menyelesaikan problem-problem yang ada ya. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya dengan dimensi yang luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu harus diberesin," ujar Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Dony menjelaskan, Danantara sedang menangani masalah keuangan PT Pos Indonesia (Persero) kemudian juga PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP). Ia pun meminta publik untuk bersabar lantaran Danantara memiliki tenaga yang juga terbatas.
"Itu masih satu-satu diberesin, itu kan peninggalan-peninggalan yang harus dibereskan pada dasarnya. Jadi sabar, satu-satu saya juga punya keterbatasan energi," terang Dony.
Sebagai informasi, KAI membukukan penurunan kinerja keuangan hingga semester I-2026. Hal ini tercermin dari capaian laba bersih turun signifikan sebesar 74,12% meski pendapatan KAI mengalami kenaikan hingga akhir Juni 2026.
Total pendapatan KAI naik menjadi Rp 17,95 triliun hingga semester I-2026. Angka tersebut menguat 6,6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 16,84 triliun.
Laba usaha KAI tercatat sebesar Rp 4,66 triliun, naik dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 3,70 triliun. Meski begitu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk KAI turun 74,12% menjadi Rp 305,37 miliar di semester I-2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,17 triliun.
Hingga Juni 2026, KAI membukukan jumlah aset sebesar Rp 104,79 triliun. Adapun liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp 65,10 triliun dengan posisi ekuitas tercatat sebesar Rp 39,68 triliun hingga semester I-2026.
(hns/hns)









































