Mari Elka mengatakan langkah upaya mendorong ekonomi hijau tidak seharusnya dipandang sebagai beban biaya atau sekadar kewajiban memenuhi komitmen perubahan iklim global.
Menurut dia, aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim justru berpotensi menghasilkan investasi baru, menciptakan pekerjaan, serta menjaga daya saing ekonomi nasional.
"Ini bukan soal komitmen terhadap perubahan iklim semata, tetapi ini tentang pertumbuhan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).
Mari Elka mengatakan isu keberlanjutan kini juga menjadi faktor penentu dalam rantai pasok global. Investor dan pelaku usaha internasional semakin menuntut standar keberlanjutan, termasuk penggunaan energi bersih dan pengelolaan lingkungan yang baik. Tanpa itu, akses ke pasar global akan semakin terbatas.
Dari sisi sektor, energi menjadi salah satu kunci utama dalam strategi green growth. Transisi energi, menurut Mari, akan membuka peluang investasi baru dan melahirkan industri-industri baru di sektor energi terbarukan.
Selain itu, industri nasional juga perlu melakukan perencanaan karbon untuk menghindari risiko kebijakan global seperti carbon border adjustment mechanism (CBAM) yang berpotensi membebani ekspor Indonesia jika emisi tidak ditekan.
"Menangani mitigasi dan adaptasi bukan cost. Itu adalah investment yang bisa menghasilkan growth," ujar Mari.
Namun, Mari mengingatkan bahwa percepatan ekonomi hijau tidak hanya soal teknologi dan pendanaan, melainkan juga kesiapan sumber daya manusia. Saat ini, sebagian besar tenaga kerja Indonesia dinilai belum siap untuk mendukung akselerasi sektor energi terbarukan. Karena itu, program re-skilling untuk menciptakan green jobs menjadi kebutuhan mendesak agar strategi pertumbuhan hijau dapat terealisasi.
Selain energi, sektor pertanian, kehutanan, dan kelautan juga menyimpan potensi besar dalam ekonomi hijau, baik melalui pengurangan emisi maupun penyerapan karbon. Mari menyoroti pentingnya pengembangan pasar karbon domestik yang kredibel dan sesuai standar internasional, tidak hanya berbasis hutan, tetapi juga potensi karbon di wilayah laut.
Mari menilai tantangan utama Indonesia justru terletak pada koordinasi kebijakan. Selama ini, berbagai sektor masih berjalan sendiri-sendiri tanpa peta jalan yang terintegrasi. Ia menekankan perlunya strategi green growth nasional yang jelas, penentuan sektor prioritas, serta sinkronisasi antara perencanaan makro dan kebijakan sektoral.
"Perlu kebijakan yang konsisten. Jadi tanpa itu agak susah kita merealisasi our green golden vision," kata Mari. (hrp/hns)











































