Bekas Galian 105 Hektare di Palembang Kini Jadi Ladang Cuan Warga

Bekas Galian 105 Hektare di Palembang Kini Jadi Ladang Cuan Warga

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Senin, 02 Mar 2026 16:13 WIB
Bekas Galian 105 Hektare di Palembang Kini Jadi Ladang Cuan Warga
Foto: Dok. Pertamina Patra Niaga
Jakarta - Lahan bekas galian tanah liat seluas sekitar 105 hektare di Kelurahan Talang Jambe dan Talang Betutu, Palembang, yang sebelumnya memicu penumpukan sampah, banjir hingga potensi longsor, kini mulai dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi warga.

Kawasan tersebut sudah menjadi lokasi pengambilan tanah liat sejak 1970-an. Kondisi lahan yang ditinggalkan menimbulkan persoalan lingkungan dan berdampak pada keamanan ruang hidup masyarakat sekitar.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Mahmud Badaruddin II melakukan penataan dan pemanfaatan lahan bekas galian tersebut. Program dijalankan dengan empat fokus utama melalui subprogram Permata, Pesona, Perkasa, dan Pelangi.

Pada program Permata, seluas 0,42 hektare lahan dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan Keramba Jaring Apung bertenaga surya. Dari program ini, pendapatan pengrajin batu bata tercatat naik 25%, sementara pendapatan Kelompok Wanita Tani meningkat hingga 133%.

Program Pesona difokuskan pada pengelolaan sampah organik dan anorganik. Sebanyak 85% sampah rumah tangga atau sekitar 3.600 kilogram per bulan disebut telah terkelola. Salah satu kegiatannya adalah pengolahan minyak jelantah dan ampas menjadi pakan ikan yang dikelola UMKM setempat.

Rusli, anggota Kelompok UMKM Pasta, mengatakan program tersebut berdampak pada pengurangan sampah sekaligus memberi tambahan penghasilan.

"Pengolahan minyak jelantah dan ampas menjadi pakan ikan merupakan salah satu solusi untuk menekan dampak lingkungan akibat sampah sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat," ujar Rusli.

Pengumpulan minyak jelantah juga dijalankan di unit lain, yakni AFT Boyolali, sebagai upaya mengurangi potensi pencemaran lingkungan dari limbah rumah tangga.

Sementara itu, program Perkasa difokuskan pada mitigasi risiko bencana. Kegiatannya antara lain penanaman 250 pohon kelapa di area bekas galian untuk memperkuat struktur tanah serta peningkatan kapasitas masyarakat siaga bencana.

Di wilayah lain, AFT Juanda menggandeng BPBD Sidoarjo membentuk Forum Sister Village. Forum tersebut diisi dengan pelatihan kebencanaan dan simulasi penanganan darurat untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga.

Program Pelangi mencakup pengembangan RPTRA dan ruang bermain anak yang juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas gizi anak di wilayah tersebut.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, mengatakan program TJSL tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam menangani persoalan sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.

"Melalui program TJSL yang terstruktur dan berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga berupaya menghadirkan solusi nyata atas tantangan sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasi. Pendekatan ini tidak hanya memulihkan fungsi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru serta memperkuat ketahanan masyarakat," ujar Roberth.

Program tersebut juga menjadi bagian dari penilaian PROPER Emas Kementerian Lingkungan Hidup. Ke depan, perusahaan berharap pola serupa dapat diterapkan di wilayah operasional lainnya yang memiliki kondisi serupa. (fdl/fdl)

Berita Terkait