Pendanaan Proyek Ramah Lingkungan Digenjot, Fokus Energi dan Pertanian

Pendanaan Proyek Ramah Lingkungan Digenjot, Fokus Energi dan Pertanian

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Rabu, 08 Apr 2026 10:32 WIB
Kawasan Ekonomi Hijau
Foto: Kawasan Ekonomi Hijau (M Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta - SUSTAINABILITAS meluncurkan kembali skema pembiayaan proyek ramah lingkungan untuk mendorong ekonomi hijau di Indonesia. Peluncuran dilakukan di Jakarta, Selasa (7/4), ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan dengan Global Alliance for a Sustainable Planet.

Skema ini sebelumnya sudah ada sejak 2016 dan difokuskan pada pendanaan jangka panjang untuk proyek-proyek seperti energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, serta upaya pengurangan deforestasi.

Direktur SUSTAINABILITAS William Sabandar mengatakan platform ini akan digunakan untuk kajian, penyusunan rekomendasi kebijakan, hingga pengembangan investasi dan kemitraan.

"SUSTAINABILITAS adalah rumah bagi TLFF, di sini kami bersama sama akan membuat kajian, policy recommendations, melihat potensi penanganan, partnership dengan berbagai pihak, investasi untuk pendanaan, pelaku bisnis dan initiator sampai ke pemberdayaan bagi komunitas dan masyarakat," jelasnya.

Sekretaris Jenderal Global Alliance for a Sustainable Planet Satya Tripathi menilai Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi hijau, termasuk dari sisi cadangan karbon.

"berbanding dengan 10 tahun yang lalu, Indonesia mempunyai kesempatan dan tantangan yang sama besarnya. Dengan target Net Zero 2030, TLFF mempunyai konteks yang lebih baik dari sisi policy, strategy dan kegiatan lapangan yang dapat langsung mengembalikan ekosistem dan ekologi. Indonesia menjadi wadah yang baik untuk berbagai kegiatan TLFF dengan kayanya sumber daya, apalagi dengan adanya perhitungan cadangan karbon sebesar 600 juta ton. Jika ini dilakukan mulai sekarang, keadilan bagi semua tidak hanya pada masyarakat Indonesia tapi juga bagi kehidupan ekologinya," ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi menjadi kunci untuk mendorong pencapaian target net zero ke depan.

"yang perlu dilakukan sekarang adalah menata diri dan bekerja sama agar kita berfokus pada lingkungan dan pertumbuhan ekonomi hijau yang memberikan manfaat bagi semua yang dapat dicanangkan terjadi di 2030," tambahnya.

Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said menilai peran institusi penting dalam mendorong implementasi gagasan di sektor ini.

"Saya percaya pada kolaborasi dan institusi. Ide hanya akan memiliki dampak nyata bila diwadahi oleh institusi. Institusi akan melahirkan leadership, policy, dan actions. Institusi-lah yang akan sustain-lestari bahkan ketika para penggagasnya sudah tidak ada lagi." ujar Sudirman.

Skema pembiayaan ini ditujukan untuk mendukung proyek-proyek yang berdampak langsung ke masyarakat, terutama di sektor energi, pertanian, dan pengelolaan lingkungan. (fdl/fdl)

Berita Terkait