Pasalnya, desa seluas 248,5 hektare (Ha) dengan luas areal persawahan 82 Ha tersebut dianugerahi lahan yang subur. Potensi ini dimanfaatkan warga sebagai lahan pertanian produktif untuk mengembangkan kemandirian desa.
Tak heran, potensi pertanian yang dipadukan dengan wisata edukasi ini berhasil meraih sederet prestasi. Desa Benteng berhasil menjadi satu dari lima desa terbaik yang mendapatkan anugerah Desa BRILian pada 2022.
Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng Wahyu Syarief Hidayat menjadi salah satu penggerak yang mengembangkan desa ini sebagai edu-agrotourism. Konsep desa ini menggabungkan pendidikan dan wisata. Tujuannya mengenalkan dunia pertanian ke masyarakat luar.
"Ide ini bermula sejak 2015 saat rekan saya (di organisasi kepemudaan), Faka Harika, jadi Kepala Desa Benteng periode I tahun 2014-2020. Dia mantan pelaut punya pengalaman 15 tahun keliling mancanegara, jadi paham soal wisata," ujar Kang Wahyu, sapaan akrabnya, ditemui detikcom di Balai Desa Benteng, Ciampea, Rabu (28/4/2026).
Kala itu, Kang Wahyu masih menjadi pedagang pakaian di Pasar Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Namun, usahanya harus gulung tikar karena tren penjualan online pada 2018 merusak ceruk pasarnya. Hal itu membuat dirinya juga terpaksa beralih profesi.
"Saat itu usaha saya kolaps, saya jual toko. Kemudian ketemu beliau, diajak gabung ke desa. Katanya dia lagi butuh orang lapangan yang mau bergerak ke masyarakat untuk bangun desa," ungkapnya.
Merasa sejalan dengan ide menggerakkan perekonomian masyarakat lewat desa wisata. Wahyu pun ikut ke desa dan menjadi Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sekaligus Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng. Ia menggantikan pengurus sebelumnya yang tutup usia.
Pemberdayaan Desa BRILian
Dua tahun berjalan, pihaknya aktif mengikuti berbagai pelatihan desa wisata, termasuk di antaranya program pemberdayaan Desa BRILiaN yang baru dibuka BRI tahun 2020. Kebetulan saat itu Pandemi COVID-19 membuat pangan jadi sektor strategis penopang ekonomi masyarakat.
"Atas restu dari kepala desa, ikutlah kita di pelatihan Desa BRILiaN itu. Selama 3 bulan, online, karena pandemi. Kita ajak kelompok tani, perwakilan UMKM, tokoh masyarakat, dan perwakilan BUMDes. Kita presentasi kelebihan dan potensi desa," ujar Kang Wahyu.
Dia mengungkapkan saat itu produk wisata edukasi pertanian yang dijadikan andalan adalah Kampung Cassava. Kelompok tani budidaya singkong mengolah sebagian hasil panennya menjadi tepung mokaf untuk bahan baku aneka kue sehingga meningkatkan nilai jualnya.
Selain itu, budidaya jambu kristal yang dikelola Kelompok Tani Cahaya Tani. Wisatawan yang datang bisa belajar mencangkok, budidaya, hingga memetik buah jambu langsung dari kebunnya.
Lahan Gapoktan Cahaya Tani (Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom) |
Ramainya wisatawan yang berkunjung ke wisata pertanian kala itu mendatangkan berkah bagi para UMKM sekitar. Desa Benteng kemudian memberdayakan para UMKM seperti Rumah Kedelai Pak Mien Soya Ayu hingga Batik Ciwitan & Eco Print Lawon Geulis.
"Awalnya kami dari Desa Benteng itu nothing to lose, nggak ada tujuan untuk meraih CSR. Yang penting, kita ada relasi, ada link, kita ikut," imbuhnya.
Setelah mendapat pendampingan khusus dari pihak BRI dan rutin mendapatkan materi manajemen dan tata kelola desa wisata dari akademisi. Hasilnya, pada 2022 Desa Benteng terpilih sebagai salah satu binaan Desa BRILiaN BRI.
"Mungkin karena BRI melihat konsistensi dan keberlanjutan kita. Perkembangannya naik bukan turun. Dari kelompok tani terangkat, banyak kunjungan. Kemudian produksi UMKM juga meningkat. Tahun 2022 kita dapat anugerah Desa Brilian," ungkapnya.
Mendapat Dana Hibah Rp 1 Miliar
Pada 2023, Desa Benteng menjadi satu dari lima desa penerima hibah dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) senilai Rp 1 miliar. Hal itu merupakan bagian dari program Desa BRILian untuk mengembangkan potensi desa agar mandiri dan berdaya saing.
Kang Wahyu kemudian mengumumkan di media sosial Desa Benteng. Hal itu sekaligus membuat peran BUMDes semakin diakui dan diapresiasi masyarakat. Sehingga masyarakat terus tergerak mengikuti berbagai kegiatan BUMDes.
"Kami kemudian diminta menyusun proposal penggunaan dana tersebut. Kami adakan rapat besar melibatkan kepala desa, pengurus BUMDes, kelompok tani, dan perwakilan UMKM. Semua aspirasi kami tampung," terangnya.
Benteng Pangan Mandiri (Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom) |
Dana hibah itu kemudian digunakan untuk meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana di tiap Desa Wisata Desa Benteng, seperti membangun gapura, mengembangkan wisata sungai, mengembangkan potensi pertanian dan UMKM, serta membangun Taman Desa Benteng.
"Hasilnya luar biasa, di area wisata petik jambu kristal, kini tersedia jalan paving block, pagar, hingga spot foto yang menarik. Kunjungan wisatawan meingkat drastis saat akhir pekan. Bahkan petani jambu tidak pelu lagi menjual hasil panennya ke pasar karena habis dibeli wisatawan," jelasnya.
"Selain itu, kami menerapkan konsep wisata wisata tematik di tiap RW sesuai karakternya. RW 03 memiliki Kelompok Tani Hidroponik, BRI bangun gapura besar bertuliskan Kampung Hidroponik. RW 05 didominasi perkebunan singkong, dibangun gapura Kampung Cassava. Begitu juga di area Bank Sampah dan pengolahan limbah plastik yang kini dikenal sebagai Kampung Ramah Lingkungan," sambungnya.
Setidaknya, saat ini Desa Benteng memiliki lebih dari 15 wisata edukasi yang aktif dikunjungi. Destinasi tersebut di antaranya, Wisata Petik Jambu Kristal, Kampung Cassava, Benteng Pangan Mandiri, Benteng River Tubung, Budidaya Lele Bioflok, Rumah Kedelai Pak Mien Soya Ayu, Batik Ciwitan & Eco Print Lawon Geulis, Bank Sampah Asri Mandiri.
Kemudian Rumah Belanda, Jembatan Gantung Benteng Cisadane, Jembatan Rawayan Muara Tiga, Sanggar Seni Tradisional Nur Amanda, Sanggar Seni Nuansa Islami Kencana, Sanggar Seni Wayang Golek Sekar Giri Cempa, Peternakan Sapi Darul Fallah, Pengolahan Susu Yoghurt.
Budidaya sayuran hidroponik Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom |
Penghargaan dan Keberlanjutan
Sejak menjadi Desa BRILiaN binaan BRI pada 2020, Desa Benteng rutin mendapatkan berbagai penghargaan di antaranya, apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena Desa Benteng jadi Desa Mandiri pertama di Kecamatan Ciampea di 2022. Pada tahun yang sama, Desa Benteng menerima Anugerah Panca Karsa dari Pemkab Bogor kategori Desa Teladan.
Pada 2024, Desa Wisata Benteng berhasil menembus 500 besar dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) mengalahkan ribuan peserta. Pada 2025, Desa Benteng mendapatkan penghargaan Desa Sejahtera karena berhasil meningkatkan kesejahteraan petani singkong dan ubi melalui pendampingan, ekspor hingga pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Pada tahun yang sama, Desa Benteng juga mendapatkan penghargaan terbaik III kategori Bank Sampah unit Gerakan Indonesia Bersih. Selain itu, Desa Benteng mendapatkan penghargaan Kampung Ramah Lingkungan Terbaik I se-Kabupaten Bogor karena inovasi pakaian daur ulang.
Selain berbagai penghargaan tersebut, Desa Benteng rutin mendapat kunjungan tamu dari luar negeri mulai dari perguruan tinggi dari Jepang, Canada, Afrika Selatan. Kementerian Desa Malaysia, Bankir dari Peru, Amerika Latin serta berbagai sekolah dan pemerintah daerah dari dalam negeri untuk melakukan studi.
"Saya rasakan BRI itu sangat membawa dampak positif tidak hanya untuk desa tapi untuk masyarakat bawah jadi kehadiran BUMDes benar-benar dirasakan keberadaannya oleh masyarakat dan UMKM-nya pun ekonominya makin terangkat dengan kunjungan, dengan pesanan barang, dengan membuka link-link baru," jelas Kang Wahyu.
Hal senada disampaikan oleh pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah Eka Harijayanti. Eka merupakan perajian Batik Ciwitan dan Eco Print Lawon Geulis yang memberdayakan para ibu-ibu rumah tangga di sekitar Desa Benteng.
Menurutnya, sejak Desa Benteng menjadi Desa BRILiaN unit usahanya semakin dikenal luas. Hal ini dikarenakan Batik Ciwitan sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan termasuk kunjungan ke tempat usahanya.
"Ya sering ada kunjungan, dari beberapa sekolah, instansi, terus waktu itu dari mahasiswa-mahasiswa luar negeri dari Peru, Jepang, Amerika. Mereka ke sini belajar Batik Ciwitan," ungkapnya.
Menurut Eka, kunjungan sekolah dan perguruan tinggi yang rutin dilakukan setiap tahun itu turut berdampak positif. Sebab, mereka tidak hanya berkunjung tapi juga tertarik membeli produk dari Batik Ciwitan.
"Kunjungan ini rutin setiap tahun, dan selain kunjungan mereka juga beli, jadi bermanfaat untuk ibu-ibu di sini," tuturnya.
Komitmen Pembangunan Desa
Sementara itu, pada kesempatan terpisah Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan program Desa BRILiaN merupakan wujud nyata komitmen BRI dalam mengakselerasi potensi desa binaan secara berkelanjutan. Desa yang ikut serta dalam program ini memperoleh manfaat strategis.
"Melalui Program Desa BRILiaN, BRI mendorong desa-desa untuk dapat mengoptimalkan potensi ekonomi secara berkesinambungan, memanfaatkan layanan keuangan perbankan khususnya BRI, serta meningkatkan pemahaman dalam penyusunan laporan keuangan. Selain itu, desa dapat memanfaatkan teknologi digital untuk kemajuan desa baik dalam aktivitas maupun pengelolaan keuangan desa," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Diketahui, Desa BRILiaN saat ini terus menjangkau semakin banyak desa di berbagai wilayah Indonesia. Tercatat pada 2025, BRI telah membina lebih dari 5.200 Desa BRILiaN di seluruh Indonesia.
"Capaian ini mencerminkan konsistensi BRI dalam memperkuat peran desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mengimplementasikan agenda pembangunan yang berorientasi pada pemerataan dan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya. (akd/ega)














































