Wamenko Pangan: Pengelolaan Lingkungan Bukan Biaya, tapi Investasi

Wamenko Pangan: Pengelolaan Lingkungan Bukan Biaya, tapi Investasi

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 14 Sep 2026 14:33 WIB
Wamenko Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta - Pengelolaan lingkungan dinilai tidak lagi sebatas kewajiban perusahaan untuk memenuhi aturan. Jika dikelola melalui inovasi, isu lingkungan juga dapat menjadi investasi yang menghasilkan efisiensi dan nilai ekonomi.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, dalam ajang Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 di Bali. Menurut Hanif, dunia usaha perlu melihat pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan hanya sebagai biaya yang harus dikeluarkan perusahaan.

"Kami menyambut baik penyesuaian fokus inovasi khusus ENSIA 2026 yang kini mengangkat tiga isu strategis, yaitu ketahanan pangan, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, serta transisi energi bersih. Aspek ini menjadi respons penting terhadap tantangan perubahan iklim, kebutuhan efisiensi sumber daya, pengurangan emisi, serta ketidakpastian global yang terus berkembang. Dunia usaha perlu melihat pengelolaan lingkungan bukan sebagai biaya, melainkan investasi untuk menciptakan efisiensi, nilai ekonomi, dan keberlanjutan bisnis," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).

Salah satu contoh yang disebut adalah Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Skema tersebut dapat mengubah persoalan pengelolaan sampah menjadi sumber energi sekaligus menciptakan nilai ekonomi.

Hanif mengatakan pendekatan serupa dapat diterapkan pada sektor pangan melalui pengurangan food loss dan food waste, peningkatan efisiensi pascapanen, serta pengembangan ekonomi sirkular.

Menurutnya, inovasi lingkungan juga perlu menghasilkan manfaat yang lebih luas dan tidak berhenti pada penerapan di masing-masing perusahaan.

"Inovasi yang terbukti memberikan dampak, perlu direplikasi dan diperluas melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, dan masyarakat sehingga dapat menjadi bagian dari transformasi nasional menuju Indonesia yang tangguh secara sosial, berkelanjutan secara lingkungan, mandiri dalam energi, dan kuat dalam ketahanan pangan," tuturnya.

Hanif juga mendorong perusahaan untuk meningkatkan inovasi lingkungan dari sekadar memenuhi ketentuan atau compliance menuju beyond compliance. Arah tersebut sejalan dengan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).

ENSIA 2026 sendiri diselenggarakan PT SUCOFINDO (Persero) dengan mengangkat tema "Innovation for Sustainable Business and Resilient Community". Ajang tersebut mengangkat tiga isu khusus, yakni ketahanan pangan, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, serta transisi energi bersih.

Direktur Utama PT SUCOFINDO (Persero), Sandry Pasambuna, mengatakan ENSIA menjadi salah satu wadah bagi perusahaan untuk menunjukkan inovasi yang dijalankan sekaligus bertukar praktik dengan pelaku usaha lainnya.

"ENSIA memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk menunjukkan komitmen dan capaian inovasinya kepada para pemangku kepentingan. Selain memperoleh pengakuan atas inovasi yang dijalankan, peserta juga mendapatkan ruang untuk berbagi praktik terbaik dan memperluas jejaring serta memperkuat reputasi perusahaan dalam aspek keberlanjutan. Bagi perusahaan yang mengikuti PROPER, apresiasi ENSIA dapat menjadi salah satu nilai tambah dalam mendukung aspek penghargaan nasional pada penilaian PROPER Hijau dan Emas," jelasnya.

Menurut Sandry, kebutuhan inovasi tersebut semakin relevan di tengah perubahan kondisi global, mulai dari ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok hingga risiko bencana ekologis akibat perubahan iklim.

"Ke depan, kami berharap ENSIA terus berkembang sebagai platform inovasi keberlanjutan yang inklusif dan berdampak. Kami ingin merangkul lebih banyak perusahaan, komunitas, dan local hero yang terlibat serta menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan lingkungan dan sosial secara nyata. Yang terpenting, inovasi yang dihadirkan pada ENSIA tidak berhenti pada penghargaan, melainkan dapat direplikasi dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan Indonesia," tambahnya.

Dalam ENSIA 2026, tercatat 253 perusahaan berpartisipasi dengan 954 paper dan 48 local hero. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang diikuti 178 perusahaan dengan 690 paper.

"ENSIA 2026 mencatat partisipasi 253 perusahaan dengan 954 paper dan 48 local hero, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang diikuti 178 perusahaan dengan 690 paper. Capaian ini menunjukkan semakin tingginya komitmen dunia usaha dalam menghadirkan inovasi yang mendukung keberlanjutan lingkungan, sosial, dan bisnis," tutupnya. (fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini