"Di posisi sekarang ini, para produsen biofuel megap-megap," kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Purnardi Djojosudirdjo kepada detikFinance, Jumat (17/12/2010).
Ia menuturkan pada tahun ini juga produksi biofuel jenis bioetanol tidak lebih dari 50.000 ton. Sehingga kata dia, jangan harap para produsen biofuel di dalam negeri bisa menikmati produksi yang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purnardi menambahkan, dengan harga minyak (fosil) mentah dunia yang diperkirakan akan mencapai US$ 100 per barel di tahun depan akan semakin mempersulit para produsen karena harga CPO atau crude palm oil sebagai bahan baku biodiesel juga ikut mengalami kenaikan harga.
"Harga kelapa sawit sudah diatas US$ 1200 per ton," katanya.
Ia mengatakan saat ini pemerintah masih maju mundur dalam membela sektor industri biofuel. Penggunaan biofuel untuk kendaraan umum masih sedikit, sementara biofuel lebih banyak dipakai oleh truk, bus dan industri.
"Sementara untuk industri itu kan tak disubsidi," katanya.
Menurutnya sampai sekarang hanya tersisa 5 perusahaan yang memproduksi biofuel yang mensuplai ke Pertamina. Padahal beberapa tahun lalu ada 20-an perusahaan yang memproduksi biofuel.
"Ini karena semakin banyak produksi malah semakin rugi," katanya.
Purnardi menghitung, produksi biofuel khususnya biodiesel belum mencapai angka 3% dari produksi kelapa sawit yang mencapai 20-21 juta ton di tahun ini.
(hen/qom)











































