Deputi Menko Perekonomian Bidang ESDM dan Kehutanan Wimpy S. Tjetjep mengatakan, pemerintah mendorong peningkatan produksi migas nasional.
"Produksi migas lapangan harus ditingkatkan melalui percepatan penerapan Enhanced Oil Recovet (EOR) mengingat harga minyak yang sedang tinggi. Segera mempercepat produksi lapangan-lapangan baru," ujar Wimpy mewakili Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam acara Energy Outlook 2011 di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, SCBD, Jakarta, Rabu (22/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Wimpy, saat ini mayoritas lapangan migas di Indonesia merupakan lapangan-lapangan tua yang sudah tidak optimal lagi. Karena itu harus dibuat rumusan pengelolaan lapangan tua secara efektif.Β
Selama beberapa dekade terakhir penerimaan negara dari sektor Migas menyumbang 30% dari APBN. Di era 80-an, tepatnya 1981 dan 1982, sektor ini menghasilkan 80% dari total devisa negara.
Usaha hulu migas telah menghasilkan sedikitnya US$ 359 miliar dalam 30 tahun terakhir untuk membiayai pembangunan nasional. Kontribusi usaha hulu migas terhadap GDP berkisar 5-8% dalam kurun 1990-2008.
Target produksi minyak 2011 adalah 970 ribu barel per hari (bph), naik 5 ribu bph dari tahun 2010 yaitu 965 ribu bph. Pemerintah optimistis karena kondisi kondusif.
Pemerintah mengambil pelajaran pada kejadian 2010 meleset karena berbagai kendala operasional sehingga dibawah target produksi. Namun dari sisi penerimaan negara melampaui target karena adanya kenaikan harga minyak dunia.
(dnl/qom)











































