Pemerintah Pede Patok ICP di US$ 80/Barel

Pemerintah Pede Patok ICP di US$ 80/Barel

- detikFinance
Rabu, 29 Des 2010 08:49 WIB
Jakarta - Pemerintah akan tetap mempertahankan asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP) 2011 sebesar US$ 80 per barel walaupun trend harga minyak dunia terus meningkat.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan kenaikan ICP selain meningkatkan penerimaan dari lifiting, juga dapat menambah beban belanja. Setiap peningkatan harga US$ 1 per barel, akan ada tambahan belanja sebesar Rp 900 miliar. Walaupun demikian, lanjutnya, setiap kenaikan itu bukan berarti perlu langsung direspons menaikan asumsi harga ICP. Pasalnya, pemerintah akan menghitung rata-rata harga tersebut sepanjang tahun.

"Kita tidak perlu khwatir. Pada 2008 sampai 2009 kita sudah punya pengalaman baik dalam mengelola fiskal. Kita sudah punya cadangan risiko, termasuk masalah revisi APBN. Itu sudah dianalisa Kementerian Keuangan," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (28/12/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai informasi, pada tahun 2010, ICP yang ditetapkan dalam APBNP-2010 besarannya mencapai US$ 80Β  per barel, tetapi realisasi rata-rata harga ICP sampai akhir tahun ini diperkirakan akan hanya mencapai US$ 78,7 per barel.

"Kita memang tiga bulan terakhir ini rata-rata diatas 80 dolar AS per barel. Namun rata-rata satu tahunnya masih dibawah 80 dolar AS perbarel," ujar Pjs Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Agus Supriyanto.

Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati menuturkan, respon sterhadap kenaikan harga minyak dunia memang harus dilakukan secara hati-hati. Pasalnya hitungan asumsi ICP ditetapkan untuk kurun waktu satu tahun anggaran.

"Kenaikan harga saat ini kan karena cuaca ekstrem dan akhirnya meningkatkan permintaan. tapi apakah hal ini akan berlangsung lama?" ujarnya.

Anny menyebutkan berdasarkan pengalaman, pemerintah pernah menetapkan ICP dengan level yang cukup tinggi, tetapi ternyata realisasinya hanya justru malah anjlok sampai USD 35 per barel. Jika kenaikan harga minyak dunia melebihi asusmi ICP dalam waktu lama, lanjut Anny, hal tersebut baru akan dibicarakan kembali dan kemungkinan bisa masuk dalam APBN Perubahan 2011.

"Sehingga ICP 80 dolar AS per barel itu masih memadai. Kita lihat saja nanti dalam tiga bulan pertama tahun depan, apakah kenaikan melebihi USD 80 per barel akan terus terjadi," imbuh Anny.

Harga minyak mentah dunia terus menunjukkan tren kenaikannya di penghujung tahun 2010 ini. Pada perdagangan Selasa (28/10/2010) di pasar New York, harga minyak light tercatat naik 49 sen menjadi US$ 91,49 per barel. Minyak Bernt juga naik 53 sen menjadi US$ 94,38 per barel.

(nia/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads