"Sejauh ini, untuk sementara pemerintah masih mengacu kepada asumsi makro APBN 2011 sebesar US$ 80 per barel. Kita masih belum hitung itu, kita masih pakai yang 80 (US$ 80 per barel)," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta (29/12/2010).
Evita mengatakan bergejolaknya harga minyak disebabkan karena ada musim dingin di Eropa. Evita memperkirakan bahwa setelah berakhirnya musim dingin akan memberikan kemungkinan turunnya harga minyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya, di bulan Maret atau April harga minyak akan turun. Ini prediksi saya saja," imbuhnya.
Evita menambahkan bahwa pemerintah nantinya akan terus membahas lebih lanjut lagi jika harga minyak sampai kuartal pertama tahun depan tidak kunjung turun.
Seperti diketahui, di minggu-minggu terakhir 2010 ini harga minyak selalu melonjak naik. Berdasarkan pada perdagangan Selasa (28/12/2010) di Singapura, kontrak utama minyak light sweet pengiriman Februari naik 24 sen menjadi US$ 91,24 per barel. Minyak Brent pengiriman Februari juga naik 18 sen menjadi US$ 94,03 per barel.
Ini diakibatkan karena adanya badai salju massal yang menerpa sebagian besar dataran timur AS hingga mencapai bagian Timur Kanada. Salju tebal dimana-mana mengganggu lalu lintas dan sejumlah penerbangan terpaksa dibatalkan. Harga minyak diprediksi akan terus meningkat karena badai akan meningkatkan permintaan minyak pemanas.
Kondisi cuaca dingin di AS itu sangat berpengaruh akan bergeraknya harga minyak dunia, mengingat negara adikuasa itu merupakan konsumen terbesar minyak dan kawasan utara merupakan pasar minyak terbesar secara global.
(nrs/hen)











































