Pemerintah Belum Berencana Ubah Asumsi Harga Minyak

Pemerintah Belum Berencana Ubah Asumsi Harga Minyak

- detikFinance
Rabu, 29 Des 2010 21:22 WIB
Jakarta - Meski harga minyak mentah dunia yang sejauh ini selalu gonjang-ganjing, pemerintah untuk sementara ini masih belum bisa memperhitungkan harga subsidi dan alpha yang ditanggung. Mengingat sampai saat ini harga minyak dunia berada di harga rata-rata US$ 90 per barel.

"Sejauh ini, untuk sementara pemerintah masih mengacu kepada asumsi makro APBN 2011 sebesar US$ 80 per barel. Kita masih belum hitung itu, kita masih pakai yang 80 (US$ 80 per barel)," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo  di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta (29/12/2010).

Evita mengatakan bergejolaknya harga minyak disebabkan karena ada musim dingin di Eropa. Evita memperkirakan bahwa setelah berakhirnya musim dingin akan memberikan kemungkinan turunnya harga minyak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang kan bilang gini, yang paling susah ditebak hanya dua di dunia ini. Pertama, hati wanita dan yang kedua, harga minyak. Tapi itu saya lihat karena sekarang musim dingin lagi jelek sekali. Tunggu saja nanti," ujar Evita.

"Menurut saya, di bulan Maret atau April harga minyak akan turun. Ini prediksi saya saja," imbuhnya.

Evita menambahkan bahwa pemerintah nantinya akan terus membahas lebih lanjut lagi jika harga minyak sampai kuartal pertama tahun depan tidak kunjung turun.

Seperti diketahui, di minggu-minggu terakhir 2010 ini harga minyak selalu melonjak naik. Berdasarkan pada perdagangan Selasa (28/12/2010) di Singapura, kontrak utama minyak  light sweet pengiriman Februari naik 24 sen menjadi US$ 91,24 per barel. Minyak Brent pengiriman Februari juga naik 18 sen menjadi US$ 94,03 per barel.

Ini diakibatkan karena adanya badai salju massal yang menerpa sebagian besar dataran timur AS hingga  mencapai bagian Timur Kanada. Salju tebal dimana-mana mengganggu lalu  lintas dan sejumlah penerbangan terpaksa dibatalkan. Harga minyak diprediksi akan terus meningkat karena badai akan meningkatkan permintaan minyak pemanas.

Kondisi cuaca dingin di AS itu sangat berpengaruh akan bergeraknya harga minyak dunia, mengingat negara adikuasa itu merupakan konsumen terbesar minyak dan kawasan utara  merupakan pasar minyak terbesar secara global.

(nrs/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads